Tuesday, September 15, 2020

Stetoskop Cinta Sang Dokter 01 dan 02

Stetoskop Cinta Sang Dokter
Part 1 dan 2

Aku duduk di teras sambil menatap lekat ke layar laptop yang menyala. Secangkir kopi hitam instant menemani di sabtu sore yang cerah ini. Sengaja kuboyong laptop ke teras, agar ide-ide yang berterbangan di otak bisa tercurah lancar. 

Sambil meramu ide-ide yang berseliweran di kepala, 
kualihkan sejenak pandang ke halaman. Menikmati keasrian permadani rumput gajah mini yang menutupi permukaan tanah. Anak bungsuku – Maghrib – sedang menunaikan tugasnya menyapu halaman. Ya, halaman rumah kami yang luas ditumbuhi beragam jenis pohon buah-buahan. Dan guguran daun matoa, rambutan, cengkeh, jambu citra, dan mangga, senantiasa mengotori halaman berumput tersebut. Tugas Maghrib lah untuk menyulapnya kembali asri.

 Edel, anak gadisku sedang menyalurkan hobi bakingnya di dapur. Setelah lulus kuliah, si sulung ini bekerja di  perusahaan BUMN, dan di tempatkan di Yogya. Setiap akhir pekan dia pulang ke Salatiga, sekedar menemani aku dan Maghrib yang sekarang hanya tinggal berdua. Hari Senin pagi selepas Subuh, dia balik ke Yogya untuk kembali beraktivitas.

Pun demikian dengan Dhuha. Setelah lulus kuliah,  melalui jalur management trainee dia diterima di sebuah perkebunan  swasta nasional nun jauh di Kalimantan. Sejak awal bertugas, Dhuha baru sekali pulang ke rumah ketika papanya meninggal hampir enam bulan yang lalu.

Hanya si bungsu Maghrib yang kini mengisi hari-hariku. Saat ini dia duduk di kelas 1 SMP. Sebenarnya, ada Mbak Sih -ART yang sudah 24 tahun mengabdi di rumahku- yang menemani kami. Sejak suamiku meninggal, Mbak Sih menginap di rumahku dari hari Senin hingga Jumat sore. Di akhir pekan ketika Edel mudik, beliau pulang ke rumahnya, dan kembali lagi Senin pagi.

Di saat aku  asyik menata ide, sebuah mobil Pajero Sport putih membunyikan klakson tepat di depan pintu gerbang rumahku. Maghrib yang sedang menyapu halaman, meletakkan begitu saja sapu lidi yang sedang digunakannya ketika melihat mobil yang dikenalinya tersebut. Dia segera berlari untuk membuka  gerbang.

Kendaraan dengan plat nomer cantik diikuti dua huruf inisial nama seseorang yang sangat aku kenal itu memasuki halaman rumah kami yang luas. Sejurus kemudian, seorang lelaki gagah, segagah mobil tunggangannya turun. Maghrib menyalami beliau sembari mencium punggung tangannya, sementara lelaki dewasa nan gagah tersebut menepuk-nepuk pundak Maghrib dengan akrab. Tinggi mereka hampir seimbang, sehingga lelaki dewasa tersebut tak lagi bisa mengusap ubun-ubun anak bungsuku seperti yang dulu sering beliau lakukan. Setelahnya, beliau berjalan melintasi halaman berumput menuju teras.

Ada sedikit rasa terkejut melihat kedatangannya. Dan rasa terkejut itu bercampur dengan...ah...ntahlah, aku tak bisa menjabarkannya dengan kata-kata. Yang jelas, gejala-gejala grogi yang dulu sering menghinggapiku, kini kembali menghampiri. Tangan dan kakiku dingin, jantungku berdegup tak beraturan.

“ Selamat sore, Nyonya.” Ucapan pertamanya ketika beliau melangkah naik ke teras. 

@@@@@

Pertemuan kami di bandara tiga minggu yang lalu -ketika aku akan berangkat ke Medan- menjadi pembuka pintu komunikasi yang sempat terputus selama lima tahun. Sebenarnya pertemuan secara kebetulan itu sempat mengacaukan rencana liburanku. Aku yang berniat ingin menenangkan diri, justru semakin terpuruk ketika harus bertemu tanpa sengaja dengan beliau. Bermaksud mengobati luka, tapi  aku justru mendapat luka baru yang lebih perih.

Kepedihan itu sedikit terobati ketika  beliau kembali rutin mengirimi pesan melalui aplikasi WA selama aku berada di Medan. Namun kondisi itu tetap saja tidak akan bisa menyembuhkan luka hatiku. 

Dua hari sebelum aku kembali ke Salatiga, beliau memesan beberapa jenis oleh-oleh khas Medan. Pesanannya banyak, jadi kuizinkan saja ketika beliau meminta nomer rekeningku, dan mentransfer sejumlah dana untuk pesanannya tersebut. 

 
Sehari setelah aku tiba di rumah, beliau datang untuk mengambil  4 box Napoleon Cake rasa durian,  4 box Bolu Meranti orisinal, dan 50 tusuk Sate Kerang Medan. Aku yakin, titip oleh-oleh itu mungkin hanya modus beliau untuk bisa berkunjung ke rumahku. Namun aku seolah menutup mata dengan kemungkinan tersebut. Aku dejavu, menikmati komunikasi yang kembali terjalin, dan menerima kedatangannya dengan ikhlas. 

Dan sore ini, beliau kembali menyambangiku untuk kedua kalinya, dengan alasan yang tidak kuketahui.

“Ngapain ke sini, Dok ?” responku spontan atas ucapan selamat sorenya. Ada getar dalam nada bicaraku.

“Silaturahmi,” jawab Beliau santai  sambil mendudukkan diri di sebelahku di atas kursi panjang.

Aku menggeser sedikit posisi duduk, agak memberi jarak dengan dirinya.

“Lagi ngerjain apa?” tanyanya sambil menatap ke layar laptop. 

Beliau tidak berubah, masih seperti dulu, kharismatik, bersih, dan mempesona. Parfum beraroma maskulin menguar dari tubuhnya. Nada bicaranya hangat dan akrab. Sikapnya santai dan menyenangkan. Aku kembali merasakan getar-getar yang sempat terporak-poranda.

“Artikel tentang rumah Tjong A Fie, pengusaha dan bankir sukses di Medan pada zaman Belanda dulu.”

“Masih terhanyut dengan nuansa Medan, ya?” tanyanya sambil melempar senyum ke arahku.

Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku melemparkan pertanyaan lain pada beliau.

“Kemarin pesen oleh-oleh segitu banyak untuk siapa aja, Dok ?”.

“Napoleon cakenya yang dua untuk di rumah. Yang dua lagi dibawa Lintang dan Mentari ke sekolah masing-masing. Sate kerangnya juga untuk di rumah. Lintang dan ibu saya suka banget dengan sate kerangnya. Kalau Bolu Merantinya saya  bawa ke rumah sakit, untuk mbak-mbak perawat di poli.” Beliau menjabarkan pendistribusian oleh-oleh yang kemarin dipesan.

“Memangnya orang-orang di rumah gak tanya, Njenengan dapet oleh-oleh sebanyak itu dari mana?” tanyaku menyelidik.

“Mentari sudah langsung bisa nebak, kalau itu dari Njenengan. Soalnya semuanya khas Medan banget. O...ya...Mentari titip salam buat Njenengan.”

Aku mengernyitkan dahi. Terbayang wajah gadis manis bermata bulat nan sendu. Kami baru dua kali bertemu, namun aku merasa ada ikatan bathin yang kuat di antara kami. Pertemuan pertama, bertahun-tahun yang lalu ketika dia merayakan ulang tahunnya yang ke 12. Saat itu aku yang membuat tart ulang tahunnya. Dan pertemuan selanjutnya tiga minggu yang lalu di bandara, saat aku akan berangkat ke Medan.

“Njenengan pengen tau gimana cara Mentari mengungkapkan praduganya?” Pak Dokter melanjutkan ujarannya.

“Gimana ?” tanyaku antusias.

“Dia kirim WA ke saya,” ujar Pak Dokter sambil tertawa kecil dan mengeluarkan gawainya.

Kulihat beliau mengutak-atik gawainya, mungkin mencari sesepesan. Sejurus kemudian beliau menunjukkan pesan tersebut padaku. Aku membaca pesan itu dengan seksama.

[Papa, semua oleh-oleh ini dari Tante Maghrib kan, Pa? Kalau satu waktu Papa bertemu lagi dengan Tante Maghrib, sampekan salamku buat Tante ya, Pa.]

Ada haru menyelinap di dada membaca pesan Mentari. Ujung mataku memanas. Anak itu selalu sukses memikatku. Dulu ketika dia masih kanak-kanak, aku terhipnotis dengan kepolosan dan kemanjaannya padaku. Dan saat ini, ketika dia mulai beranjak dewasa, dia seolah memahami betul posisiku dan bapaknya.

Ketika aku mengangkat pandang setelah membaca pesan Mentari, kulihat Pak Dokter sedang menatapku lekat. Kami beradu pandang, ada desir hangat melintas di sekujur tubuhku. Kuabaikan rasa itu sejenak.

“Mentari tau kisah kita dulu?” tanyaku pada beliau. Memoriku kembali mengenang kisah kami di tahun-tahun yang telah berlalu.

“Kalau dulu mungkin dia belum mengerti. Tapi kalau sekarang, mungkin dia mulai mereka-reka. Memutar memorinya ke kejadian bertahun-tahun yang lalu, kemudian menyambungnya dengan keadaan di mana saya tidak pernah memenuhi permintaan mereka untuk ketemu Njenengan setelah pertemuan di resort. Dan terakhir ketika kemarin di bandara Njenengan seolah menghindar bertemu dengan saya,” ujar Pak Dokter lirih.

Aku terdiam sesaat, selanjutnya untuk menghilangkan segala rasa yang bergemuruh di dada, kualihkan topik pembicaraan.

“Saya bikinkan minum dulu, ya. Kopi atau teh, Dok ?” tanyaku sambil berdiri.

“Seperti punya Njenengan ini,” ujarnya sambil menunjuk gelas kopiku dengan gayanya yang santai dan luwes.

Aku berlalu masuk ke rumah,  sengaja  segera meninggalkannya, agar rasa grogi yang menyelimuti diri bisa sedikit berkurang.

Begitu tiba di dapur aku mengambil sebuah mug, mengisinya dengan dua sendok gula, kemudian memasukkan sesendok peres kopi instant hitam dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Di saat aku  melakoni aktivitas tersebut, Edel  yang sedang asyik dengan aktivitas bakingnya, memberondongku dengan beberapa pertanyaan.

“Siapa yang dateng, Ma? Pak Dokter, ya? Mau ngapain?” Terdengar nada tidak senang dalam cara bicaranya.

“Iya,” jawabku singkat sambil mengaduk gula dalam secangkir kopi tersebut.

“Mau ngapain?” ulangnya lagi.

“Mana Mama tau. Tanya aja langsung sama Beliau,” jawabku seadanya. Karena jujur, aku memang tidak tahu Pak Dokter datang dalam rangka apa.

“Hati-hati lho Ma,” ujarnya seolah-olah aku ini anak ABG yang sangat perlu untuk diwaspadai.

“Mama bisa jaga diri,” jawabku sambil berlalu meninggalkannya dengan membawa nampan yang berisi se-mug kopi untuk Pak Dokter. Terus terang ada sedikit rasa tersinggung dengan ucapan anak gadisku tersebut.

Ketika aku kembali ke teras, Pak Dokter sedang asyik ngobrol dengan Maghrib. Jarak dan waktu yang sempat memisahkan mereka begitu lama, ternyata tidak memadamkan  ikatan bathin yang pernah terjalin di antara keduanya. Ikatan bathin seorang.dokter dengan pasiennya.

Aku meletakkan mug berisi kopi tersebut di meja persis di hadapan Pak Dokter.

“Maghrib masuk dulu ya, Om,” pamit Maghrib pada Pak Dokter.

“Oke,” jawab beliau akrab sambil tersenyum ramah.

“Kopi nya diminum, Dok,” ujarku setelah Maghrib berlalu.

“Masih panas, kan ?” tanya beliau.

“Ho’oh,” balasku singkat.

Setelahnya kami terdiam, hening. Aku tidak punya ide untuk bicara apa lagi, dan sepertinya beliau pun sama sepertiku. Kumatikan laptop yang masih menyala.

Dalam keheningan tersebut, Edel datang membawa sepiring kue soes vla susu hasil kreasinya sore ini dan sekotak tissue.  Setelah meletakkan piring dan tissue  di atas meja, dia menyalami Pak Dokter, kemudian berbasa-basi mempersilahkan beliau mencicipi kue buatannya.

Aku bersyukur, walau tadi di dapur Edel sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya atas kedatangan Pak Dokter, namun dia masih bisa menjaga sopan santun ketika harus berhadapan dengan beliau.

“Monggo, Om, dicicipi kuenya.”

“Ini buatan Edel ?” tanya Pak Dokter antusias.

“Iya, Om.”

“Ternyata buah jatuh gak jauh dari pohonnya, ya.” Sambil mengambil sebuah soes, Pak Dokter mencoba mengutip satu pribahasa untuk menggambarkan bakat Edel yang sama denganku.

Edel membalas perkataan Pak Dokter tersebut dengan seutas senyum, kemudian pamit masuk ke rumah.

“Enak.” ujar beliau setelah memcicipi soes buatan Edel. 

“Njenengan gak tanya ke Mentari, kenapa harus bertanya melalui WA, kenapa gak tanya langsung aja.” Aku menyambung pembicaraan kami tentang Mentari. Rasa penasaran menyelimuti hatiku akan sikap gadis remaja tersebut.

“Saya tanya, tapi dia gak balas,” ujar Pak Dokter sambil kembali meraih sebuah soes.

“Njenengan tanya-nya melalui WA juga?” ujarku heran.

“Iya,” jawab beliau santai. Beliau seolah menikmati setiap gigitan soes yang tadi diambilnya.

“Hhmmmm...komunikasi yang aneh antara bapak dan anak,” balasku spontan.

Beliau tertawa mendengar ucapanku sambil mengambil selembar tissue, kemudian membersihkan sudut bibirnya.

“Bukan begitu, Nyonya. Saya berpikir, kalau saya tanya langsung, mungkin dia sungkan mau menjawab. Jadi saya tanya melalui WA, eh...ternyata tak berbalas,” ujar beliau.

Rasa penasaranku tak menemukan jawaban.

“Sekarang ini, Njenengan ada perlu apa ke sini, Dok?” Aku kembali mengulang pertanyaan yang tadi telah kuungkapkan di awal kedatangannya.

Beliau menatapku lekat. Aku membalas tatapannya sekilas, ada getar halus menyelimuti hati. Tak ingin terhanyut, kualihkan pandang ke halaman.

“Saya cuma pengen ketemu Njenengan. Kita keluar sebentar yuk.” 

“Mo kemana?” tanyaku sedikit heran dengan ajakannya.

Melihat kehadirannya yang mendadak saja, aku cukup kaget. Konon lagi tiba-tiba beliau mengajakku keluar.

“Yang dekat-dekat aja, ke Kafeole atau Salib Putih,” lanjutnya.

“Gak ah, saya mau di rumah aja. Di sana paling Njenengan pesannya juga kopi, sama seperti yang saya hidangkan itu,” ujarku sambil menunjuk ke mug kopi beliau.

“Lagian, mo ngapain sore-sore gentayangan, sebentar lagi juga azan Maghrib,” lanjutku menolak ajakan beliau.

Beliau tersenyum mendengar jawabanku.

“Gentayangan...memangnya kita Casper,” ujarnya.

“Saya kangen,” lanjutnya lagi, spontan dan tanpa tedeng aling-aling.

Duh....Pak Dokter, masih saja seperti dulu, bicara apa adanya. Dan aku...juga masih seperti dulu, merasakan hangat yang menjalari sekujur tubuh mendengar gombalan ringannya itu.

“Kangen yang tidak pada tempatnya,” balasku dingin.

Beliau terdiam, tidak membalas ucapanku. 
Tiba-tiba rasa sakit itu kembali menghujam dadaku. Periiihhh banget.

Seolah-olah memahami rasa sakit yang sedang mendera hati, beliau membalas ujaranku.

“Bukan cuma Njenengan saja yang merasakan sakit, tapi saya juga. Bahkan sakit yang saya rasakan mungkin lebih berat dari yang Njenengan rasakan, karena saya harus menanggungnya selama bertahun-tahun.”

“Saya gak mau membahas masalah ini lagi, Dok. Gak enak kalau didengar anak-anak. Lagi pula garis nasib sudah  berbicara dengan jelas. Jadi kita gak perlu menyesalinya.” Kalimatku terdengar sangat bijak, walau tak demikian adanya dengan hatiku. Hatiku belum bisa sepenuhnya menerima garis nasib ini.

Dunia ini memang panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Begitu juga dengan kisahku dan Pak Dokter, berubah dan terbalik-balik


 *Stetoskop Cinta Sang Dokter*

*Part 2*

written by Ani Rohani Panjaitan 

Pak Dokter dan Maghrib baru pulang dari mesjid, menunaikan sholat Maghrib. Karena hari yang sudah gelap, ditambah dengan cuaca dingin, beliau kuminta duduk di ruang tamu, tidak lagi di teras.

“Njenengan gak pulang, Dok ?” tanyaku apa adanya.

“Njenengan ngusir saya?” Beliau balik bertanya.

“Kalimat saya kalimat tanya Dok, bukan kalimat perintah.”

“Memang kalau bicara dengan penulis itu harus pintar mencermati diksinya, ya.” Beliau menyindirku dengan halus, sambil tertawa kecil.

“Ini weekend lho Dok, pastinya keluarga Njenengan pengen ngumpul dengan Njenengan,” ujarku sok bijak.

“Kita keluar yuk.” Beliau mengulangi ajakan yang tadi sempat ditawarkannya.

“Mo kemana, Dok?” ujarku ragu, antara menerima atau menolak tawarannya.

“Kemana aja boleh. Saya pengen cari makanan kaki lima.”

Aku diam, belum memutuskan iya atau tidak. Bidadari kecil membisiki telinga kananku untuk menolak ajakan Pak Dokter. Namun setan kecil pun tak mau kalah, menghembuskan nafas baunya di telinga kiriku agar aku menerima tawaran Pak Dokter.

“Nyonya...” Pak Dokter menggugah diamku.

“Gak usah, Dok.” Akhirnya untuk kedua kalinya aku menolak ajakan beliau.

Pak Dokter menatapku dalam diam. Kubalas tatapannya. Selanjutnya kulempar seuntai tanya,

“Kenapa, Dok ?”

“Gak pa-pa.”

“Kok menatap saya seperti itu?” tanyaku lagi dengan degup di dada yang kembali menguat melihat tatapannya yang sedemikian rupa.

“Pulanglah, Dok. Sudah malam. Hargai saya, karena sekarang saya single,” ujarku pelan.

“Kalau menuruti kata hati, sebenarnya saya gak mau pulang. Saya ingin jadi penghuni rumah ini. Atau saya ingin membawa penghuni rumah ini pulang ke rumah saya,” ujar beliau dengan kalimat gombalannya.

Aku tertawa mendengar penuturannya.

“Njenengan tu paling jago menggombal ya,” ujarku spontan.

“Saya serius, Nyonya,” 

“Terimalah takdir dengan lapang dada, Dok,” ujarku sok bijak.

“Njenengan sendiri apa sudah bisa menerima takdir kita?” tanya beliau sambil menatapku lekat.

“Jujur...belum, Dok,” jawabku jujur.

Kami terdiam beberapa jenak, ketika suara Edel memecah keheningan yang tercipta di antara diriku dan Pak Dokter,

“Mama, ada lihat flashdisk-ku, gak ?” Edel bertanya dari ruang keluarga tanpa menampakkan dirinya.

“Satpam saya sudah ngasih kode,” ujarku setengah berbisik kepada Pak Dokter. 

Beliau tersenyum mendengar ucapanku.

@@@@@

Alarm handphone berbunyi. Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Rasa kantuk masih bergelayut manja di pelupuk mata, namun aku harus segera menyingkirkannya.

 
Dengan berat, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, berwudhu, kemudian bersimpuh memasrahkan diri keharibaan Sang Penguasa Alam. 

Tunai sudah dua rakaat di penghujung malam. Aku bergegas menuju kamar Edel. Untuk membangunkan anak gadisku tersebut.

“Edel...ayo bangun,” ujarku sambil menggoyang-goyang kakinya.

Gadis manisku tersebut hanya menggeliat, merubah posisi tidurnya, namun tak hendak membuka kelopak matanya.
Sekali lagi kucoba menggugahnya,

“Edel....sudah hampir Subuh, nanti kamu kesiangan.” Kembali kugoyang-goyang tubuhnya.

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Edel membuka mata.

“Ayo cepat bangun, sebentar lagi azan Subuh,” ujarku sambil tetap duduk di pinggir tempat tidurnya.

Edel bangkit, duduk di peraduannya beberapa jenak. Kemudian, dengan perlahan dia turun dari tempat tidur. Aku melangkah keluar kamar, dan dia mengikuti langkah-langkah kakiku . Selanjutnya dia mengambil handuk di ruang service (ruangan yang kami gunakan khusus untuk mencuci pakaian dan menyetrika), dan menuju ke kamar mandi. Sementara aku langsung berkutat di dapur, mencuci piring kotor sisa makan malam. Kemudian memasak nasi dengan magic com. Setelahnya mengemas rendang kerang yang kubuat kemarin sore ke dalam tupperware. Masakan favorit keluargaku ini akan dibawa Edel ke Yogya.

Azan Subuh berkumandang. Aku bergegas membangunkan Maghrib. Tidak seperti kakaknya, putra bungsuku ini gampang banget dibangunkan dari tidurnya. Dengan sekali panggilan sambil menggoyang-goyang kakinya, dia akan refleks terbangun.

Kulihat Edel yang sudah selesai mandi menuju kamarnya. Lima belas menit berlalu, dia keluar kamar dengan kondisi sudah rapi. Mungkin selesai sholat Subuh dia langsung dandan. Edel menuju ke garasi, membuka rolling door, kemudian  memanaskan mobilnya untuk perjalanan menuju Yogya di Senin pagi ini.

Aku sedang berada di ruang makan,  mengemasi  barang yang akan dibawa Edel. Tetiba dia menghampiriku. Sambil membantu memasukkan beberapa bungkusan ke tas besar, anak gadisku ini membuka percakapan.

“Mama...,” kalimatnya menggantung.

“Edel kurang suka kalo Pak Dokter terlalu sering mengunjungi Mama,” lanjutnya.

Waktu sholat Subuh baru saja berlalu, namun anak gadisku ini sudah melempar topik pembicaraan yang begitu berat. Bahkan lebih berat dari rindunya si Dilan.

“Baru dua kali, Edel. Jangan terlalu mendramatisir keadaan,” ujarku membela diri.

“Tapi Edel punya feeling kalau Pak Dokter akan lebih rutin mengunjungi Mama.”

“Kamu tuh sok jadi paranormal,” ujarku sambil menjawil hidungnya.

“Pokoknya Mama harus hati-hati,” ujarnya kemudian.

Ada rasa jengah, ketika putri sulungku ini mencoba membentengi diriku dari pesona Pak Dokter. Kucoba memancing seperti apa sebenarnya perasaan dia terhadap Pak Dokter.

“Edel gak suka dengan Pak Dokter?”

“Mama cinta dengan Pak Dokter?” 

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah balik melempar pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab. 

“Benerkan, Mama cinta dengan Pak Dokter?” Melihat aku tidak menjawab tanyanya, dia berusaha menekanku dengan pertanyaan yang menjebak.

“Permasalahannya tidak sesimpel itu Edel,” jawabku diplomatis.

@@@@

Waktu masih menunjukkan pukul 20.30, namun aku sudah menenggelamkan diri di kamar. Begitu pun dengan Maghrib dan Mbak Sih, mereka sudah bersemayam di kamar masing-masing dari selepas Isya tadi. 

Hasrat hati ingin  menuangkan kisah yang kembali terjalin antara diriku dan Pak Dokter dalam bentuk jalinan kata kemudian merangkainya menjadi cerita bersambung, namun ntah kenapa ide-ide yang mulai menari-nari di benak seolah sulit sekali untuk dikeluarkan. Alhasil aku hanya membaringkan diri sambil asyik bercengkrama dengan gawaiku. Gentayangan dari satu WAG ke WAG lain, membalas chat beberapa orang teman,  memantau story WA dari kontak teman-teman. Dan keasyikan ini terjeda ketika chat Pak Dokter menghiasi gawaiku.

[Selamat malam, Nyonya.]

[Malam juga, Dok.]

[Lagi ngapain ?]

[Apa gak ada pertanyaan lain tho, Dok ? Dari zaman Upin Ipin masih gundul, sampe sekarang mereka sudah gondrong, kok pertanyaan Njenengan gak pernah berubah. Emotikon melet.]

[Emotikon ketawa ngakak,] balas beliau.

[Saya kangen,] lanjutnya lagi.

[Gombal,] balasku.

[Serius.]

Kuabaikan chat terakhirnya. Walau hanya berupa sebentuk pesan WA, namun diksinya itu sukses membuatku merinding, karena sejatinya aku pun merasakan hal yang sama kepada beliau. Aku juga merindukan beliau. Teramat sangat...

Iseng, ku scroll up histori pesan masuk dari beliau. Aku berhenti di satu pesan audio yang beliau kirim untukku hampir enam bulan yang lalu. Pesan yang seharusnya menjadi titik awal kebersamaan kami, kalau saja waktu itu aku membalas chat Pak Dokter.

Namun saat itu aku sedang fokus mengurus Pak Bojo yang  berjuang antara hidup dan mati, sehingga aku mengabaikan chat Pak Dokter dan membiarkannya tak berbalas.

Kuputar audio tersebut. Suara  Katon Bagaskara mengalun merdu menggulirkan lagu Dinda di mana. Kupejamkan mata, menikmati lagu tersebut dengan sepenuh hati. Rasa sakit kembali menggigit jiwa.

Dinda...di manakah kau berada ?
Biar kita isi malam...menangis tertawa
Dan sampaikan, kepada langit dan bintang
Sebentuk cinta yang ada...
Kan tetap terjaga..

Saat aku terhanyut dalam alunan suara Katon, gawaiku kembali bergetar. 

[Ping.]

[Ada apa, Dok?]

[Kok saya dicuekin?]

[Lha...terus Njenengan pengen diapain? Emotikon bingung.]

[Emotikon tertawa ngakak,] balas beliau.

Kemudian masuk chat susulan,

[Weekend saya berkunjung ya?]

Hhhmmmmm....lelaki ini kembali membuat garis hidupku berlika-liku. Dulu, ketika aku masih berstatus istri, beliau hanya berani mengisi hari-hariku melalui pesan WA. Selama setahun lebih berhubungan, hanya tiga kali kami sempat bertemu di luar rumah sakit.

Tapi kini, di episode kedua kisah kami yang baru terjalin kembali dan belum genap satu bulan , beliau seolah lebih agresif. Setelah pertemuan pertama di bandara, sudah dua kali beliau mengunjungiku di rumah.

[Gak usah, Dok.]

[Kenapa ? Emotikon sedih.]

[Saya gak enak sama Edel. Sepertinya Edel gak suka kalau Njenengan terlalu sering mengunjungi saya. Sudah dua kali akhir pekan dia mendapati Njenengan mengunjungi saya.]

[Edel gak suka sama saya?]

[Dia menghormati Njenengan. Dia itu sekarang wanita dewasa, Dok. Dia mengerti sinyal-sinyal yang ada dalam diri kita.]

[Nyonya...] Pesan beliau menggantung.

[Ya, Dok,] balasku, penasaran dengan pesannya yang menggantung.

[Apa yang saya rasakan terhadap Njenengan dulu, masih tersimpan rapi hingga saat ini. Karena sampai sekarang pun saya tidak bisa membendung perasaan saya kepada Njenengan.] 

Chat beliau tersebut menyebarkan sensasi hangat di sekujur tubuhku. Aku terbuai, dan perasaan itu semakin menjadi ketika masuk chat susulan dari beliau.

[Saya menginginkan Njenengan seutuhnya. Dan saya masih berharap bisa menghalalkan Njenengan.]

[Jangan, Dok. Saya gak mau jadi perusak rumah tangga Njenengan.]

@@@@@

Pajero Sport putih yang gagah itu terparkir kokoh di halaman rumahku. Sementara pemiliknya yang juga gagah duduk dengan sabar di kursi teras  menanti diriku yang sedang berdandan. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi ketika Pak Dokter menjeputku. Hari ini, beliau akan membawaku jalan. Hanya sekedar jalan, menghabiskan waktu bersama. 

Dengan perlahan, mobil keluar dari pintu gerbang rumahku, menyusuri jalanan yang mulai lengang. Pada jam segini aktivitas pagi mulai mencapai anti klimaks. Beliau menghidupkan audio mobil. Alunan lagu I Love You milik Sophie mengalun sendu. Kami terbawa suasana.

Mobil melaju  dalam kecepatan sedang, sehingga kami bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Setelah melalui jalanan di dalam kota, mobil mulai memasuki area pedesaan. Barisan hutan pinus, hamparan tanaman tembakau, perkebunan kopi, ladang jagung dan aneka palawija terhampar di kiri kanan jalan. Sementara panorama untaian beberapa gunung di kejauhan  terlihat begitu memukau.

“Nyonya...” Beliau menyapaku dengan lembut,  menatap sekilas ke arahku, kemudian kembali mengarahkan pandang ke depan, konsentrasi dengan kemudinya.

“Ya...” jawabku dengan degup jantung yang tak beraturan.

Ntah kenapa, dalam setiap kebersamaan kami, beliau selalu sukses membuat hatiku berdebar tak menentu. Begitu juga pagi ini. Dari sejak kami memasuki mobil, aku sudah mulai merasa mabok kepayang. Getar-getar halus terus merajai diri.

Dengan tangan kanan fokus di kemudi, beliau menggeser tangan kirinya, mencoba mencari tangan kananku dengan sudut matanya, kemudian meraihnya. 

Kubiarkan beliau menggenggam jari jemariku, kemudian membawa tanganku ke bibirnya, untuk selanjutnya sebuah kecupan lembut mendarat di punggung tanganku.

Walau aku dan beliau sama-sama sudah pernah menikah, sudah pernah merasakan nikmatnya interaksi pribadi antara pria dan wanita, namun sensasi kecupan lembutnya di punggung tanganku benar-benar memabokkan. Walau hanya sekedar kecupan kecil, namun dampaknya begitu besar. Mungkin  karena kami telah begitu lama memendam rasa  ingin saling memiliki tapi tidak pernah  bersentuhan fisik. 

Perutku mengejang, ada sensasi aneh yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.  Otot-otot di seluruh tubuhku bereaksi secara refleks. Dan sepertinya beliau juga merasakan hal yang sama.

Tiba-tiba laju mobil melambat, beliau menghentikan mobilnya di bahu jalan.

“Kenapa berhenti, Dok,” tanyaku heran.

Tanganku sudah tidak lagi  berada dalam genggamannya.

“Saya gak bisa konsentrasi.” Dengan suara bergetar, beliau bicara jujur.

Kami terdiam, lagu-lagu manis masih terus mengalun dengan lembut. Beliau menatapku lekat. Tatapan itu penuh cinta dan hasrat. Aku tak ingin berbasa-basi, kubalas tatapannya dengan lugas dan jujur.

“Saya menginginkan njenengan seutuhnya,” ujar beliau jujur.

“Keinginan yang sudah saya pendam bertahun-tahun lamanya,” lanjut beliau.

“Seandainya Njenengan tau, Dok...” Aku tidak melanjutkan kalimatku.

Beliau menatapku, penuh rasa ingin tahu.

“Bayangan Njenengan sering hadir ketika saya dan almarhum Bapaknya Maghrib mengisi malam.” Aku sudah tidak mampu lagi membendung perasaanku yang sesungguhnya kepada beliau. Perasaan bahwa aku juga sebenarnya sangat menginginkan beliau sepenuh jiwa, bahkan sejak pak bojo masih ada. 

Beliau menatapku penuh rasa tidak percaya.

“Saya bicara jujur, Dok.”

Dan semuanya seakan berlangsung begitu cepat ketika beliau  menyentuh belakang kepalaku, meraihnya, kemudian mengecup keningku dengan lembut. Aku merinding. 

Beliau  menghidupkan mesin mobil,  kami kembali melaju di atas roda. Membawa dua hati   anak manusia yang sedang berbunga-bunga, dalam balutan otot-otot yang mengejang.

Beberapa waktu ke depan, kami tiba di depan sebuah rumah mungil nan asri yang berada di tengah hamparan kebun kopi. Cuaca dingin menyergap begitu kami keluar dari mobil.

Hanya ada kami berdua di rumah indah ini. Aku duduk di sofa di depan tivi. Kakiku sengaja kulipat dan kunaikkan ke atas sofa, karena hawa dingin yang begitu menusuk. Pak Dokter duduk mensejajariku. Tangan kirinya melingkari  bahuku. Beliau mendekapku. Aku membiarkannya, karena kami memang sedang memendam rindu.

Kali ini kami tak banyak bicara. Hasrat yang tadi seakan menyergap di tengah perjalanan, menanti pelampiasannya dengan segera.

Pak dokter memiringkan tubuhnya, kemudian beliau juga memiringkan tubuhku. Kini posisi kami berhadap-hadapan. Selanjutnya beliau memelukku erat. Sangat erat. Ujung mataku serasa terbakar. Kami memendam rasa ini bertahun-tahun, menanti saat yang tepat untuk melampiaskannya, tapi ternyata sang waktu tak berpihak kepada kami. 

Namun cinta tak pernah menyerah, walau harus mengarungi kubangan lumpur. Air mataku jatuh setitik di bahu Pak Dokter, membasahi t-shirt Polo yang beliau kenakan. Beliau melepas pelukannya, menjauhkan tubuhku dari tubuhnya. Kedua lengan kekarnya memegang bahuku. Tatapan matanya lekat ke bola mataku.

[Jenengan menangis?] tanyanya lembut.

Aku mengangguk perlahan.

[Jenengan menyesal saya bawa ke sini?] tanya lagi.

Aku menggeleng.

[Kenapa sang waktu tidak berpihak kepada kita ya, Dok?] ujarku dengan suara bergetar.

Demi mendengar tanyaku, beliau kembali merengkuhku dalam pelukannya. Erat...dan penuh kasih. Aku menikmati aroma parfum maskulin yang selalu menguar dari tubuhnya. Aku menikmati dada bidangnya yang kokoh. Aku menikmati pelukan penuh kasih dari beliau. Aku menikmati semuanya.

Untuk kedua kali, beliau melepas pelukannya, kembali menatapku lekat. Beliau mendekatkan wajahnya ke wajahku, semakin dekat dan semakin dekat, ketika akhirnya bibir seksi beliau mengecup lembut bibir eksotisku. Kecupan itu begitu lembut. Aku melayang. Perlahan namun pasti kecupan lembut itu berganti menjadi lumatan yang penuh gelora. Dan aku membalas semua itu sepenuh hati. 

Kami terhempas di sini, di satu rumah mungil di tengah hamparan kebun kopi yang sedang berbunga. Aroma bunga kopi yang semerbak menambah romantisme kebersamaan kami. Kerinduan yang membuncah terlepas bebas dalam desahan nafas yang memburu. Dua jiwa melebur dalam kehangatan cinta. Merengkuh indahnya surga dunia. Dua raga menyatu dalam gelora asmara. Bergejolak, menggeliat sarat makna. Bebas...sebebas merpati yang mengangkasa di birunya langit lepas. Sebebas lumba-lumba yang berenang mengarungi luasnya samudera.

Kami saling memberi dan menerima, dengan tulus dan penuh cinta walau berlumur dosa.....

Dalam kenikmatan yang menjalari sekujur tubuh, tetiba pikiranku dipenuhi suara-suara berisik yang sangat mengganggu. Kucoba mengabaikan suara-suara tersebut. Namun semakin kuabaikan, suara-suara tersebut semakin mengganggu. Dan...membuatku terjaga.

Astaghfirullah...suara alarm handphoneku berdering-dering tak karuan. Membuatku terjaga dari mimpi indah yang penuh dosa. 

Kuraih handphone yang tergeletak di meja kecil di sisi ranjang. Kumatikan alarm yang telah menyelamatkan ku dari kubangan dosa, atau justru yang mengganggu keromantisanku dengan Pak Dokter ? Ntahlah... Kemudian kukembalikan benda itu ke posisi awalnya.

Ternyata perbincanganku dan Pak Dokter melalui pesan WA tadi malam, dan rasa rindu yang menyelimuti diriku,  begitu merasuk ke pikiran bawah sadar hingga terbawa ke alam mimpi.

Mimpi itu begitu nyata dan sangat detail. Aku bahkan masih bisa mencium aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Pak Dokter, juga aroma bunga kopi yang semerbak. Dan...organ tubuh di bawah perutku masih menyisakan denyut-denyut kenikmatan yang teraliri ke seluruh pembuluh nadi.

Jantungku masih berdegup kencang tak beraturan. Pikiranku pun masih dipenuhi adegan-adegan dalam mimpi tadi. Perasaanku masih campur aduk tak menentu. Senang, sedih, kecewa, semua berpadu jadi satu. Rasa kantukku menguap begitu saja. Kini mataku terjaga penuh. 

Kutatap jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ternyata aku salah menyetel alarm. Biasanya aku selalu memposisikannya di jam 04.00. Gawaiku bergetar. Ada beberapa pesan masuk dari Pak Dokter. Dadaku kembali berdesir. Beliau baru saja hadir dalam mimpi erotisku, dan kini tetiba pesannya muncul di pagi buta.

“Ngapain pula Pak Dokter mengirimi aku pesan di jam maling
 pulang dinas begini bathinku sambil membuka pesan-pesan tersebut.

Bersambung..

No comments:

Post a Comment

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER