Sunday, October 25, 2020

Pelukan Cinta Sang Dosen 01

PELUKAN CINTA SANG DOSEN 01
BY : FAHRIANI

Hawa, gadis berusia dua puluh tahun, berkuliah di salah satu universitas Jakarta, terlahir dari keluarga yang berkecukupan, tetapi tidak membuatnya sombong dengan keadaan yang dia miliki.

Hawa mempunyai seorang kakak lelaki,  bernama Doni, bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga yang dikelolahnya sendiri. 

Ia mempunyai dua orang sahabat sejak duduk di bangku SMP, dan kini berkuliah di Universitas yang sama kembali. 

***

Hawa memarkirkan kendaraannya, dan keluar mobil menuju kelasnya. Lagi asyik berjalan tiba-tiba ada yang memanggilnya. 

"Hawa!" seseorang memanggil namanya. 

Gadis itu mencari suara yang memanggilnya, ia melihat sosok yang sedang berlari mengejar dia. 

"Hai ... capek gua ngejar, lu jalannya cepet banget, kayak sedang dikejar setan," oceh Rossa dengan napas yang terngah-ngah karena kecapean.

"Lagian, siapa suruh lu ngejar gua kayak gitu, jumpa juga nanti di kelas." Jawab Hawa sambil tertawa karena melihat temannya itu. 

Rossa menanyakan pada sahabatnya mengenai tugas yang diberikan oleh salah satu dosen mereka yang dikerjakan secara kelompok. 

"Lu ... udah selesaikan tugas kelompok dari Pak Adam 'kan?" 

"Udah dong, mana berani gua telat kasih tugas sama beliau, bisa-bisa nilai kita rendah lagi." 

"Haha iya-ya ...  ganteng tapi killer euy!" 

***

Adam adalah salah satu Dosen termuda di kampusnya Hawa. Sebenarnya, dia belum jadi dosen tetap, ia adalah mahasiswa akhir di fakultas tersebut, tetapi karena kepintaran dan prestasinya dia direkrut menjadi asisten dosen. 

Adam mempunyai sifat yang sangat dingin pada mahasiswa di kampusnya, terutama wanita, dikarenakan dirinya pernah kecewa pada cinta pertamanya yang pergi meninggalkannya tanpa kabar. Terkadang ia suka melampiaskan dengan meminum minuman keras.

___

"Tuh Alya," ucap Hawa pada Rossa. . 

Alya memberikan benda yang ditemukannya kepada Hawa, gadis itu menerima sepucuk surat tanpa pengenal dan dengan nada kesal ia berkata. 

"Apaan sih ini, selalu saja begini!" ucapnya. 

Rossa yang melihat Hawa kesal lalu mencoba menggodanya. "Ga dibaca suratnya, Wa?" 

"Males! Bodo amat! Ini udah yang kesekian kalinya, dan aku tidak pernah buka sama sekali."

"Ha! beneran? Tidak pernah baca surat-suratnya?" tanya Alya, sambil melongo. 

Hawa mengganggukan kepala dan langsung menyimpan suratnya. Suasana kelas mendadak sepi, ketika Adam memasuki kelas.

"Pagi adik-adik kumpulkan tugas kalian yang saya berikan kemarin," ujar Adam.

Siswa-siswa pada mengumpulkan tugasnya kepada Adam. Namun, hanya Hawa yang bergeming dari tempatnya. 

"Duh...! Flashdisk tugasnya mana ya?" ucap Hawa, sambil membongkar isi tasnya. 

Rossa yang melihat Hawa heboh dengan isi tasnya langsung menanyakannya. "Lah? Tadi lu bilang sudah selesai, mana?" tanya Rossa. 

"Apa tertinggal di mobil kali ya?" ucap Hawa dengan paniknya. 

"Ah! belum tua tapi udah pikun! Cari dulu sana!" titah Rossa yang mulai ikutan panik. 

Melihat keributan antara Hawa dan Rossa, Adam mendekat dan bertanya. "Haura, Rossa mana tugas kalian?" tiba-tiba suara Adam mengagetkan Hawa. 

"Mana, Wa? Ditanya tuh sama sikulkas ..."

Rossa selalu menjuluki Adam dengan sebutan kulkas karena sikapnya yang dingin. 

"Udah tenang dulu napa sih, tadi aku bawa kok."

Hawa berdiri dan mencoba meminta izin keluar sebentar kepada Adam. 

"Maaf, Pak ... boleh saya izin keluar sebentar? Sepertinya, tugas saya dan Rossa, tertinggal di dalam mobil, Pak." 

"Yakin kamu tertinggal di dalam mobil, atau alasan kamu saja?" jawab Adam kembali.

"Yakin, Pak, saya sudah menyelesaikannya dan sudah membawanya tadi."  

"Ya sudah, nanti saja berikan kepada saya, kali ini saya maafkan jika benar tertinggal di mobil kamu,  dan sekarang kita mau mengadakan kuis. 

"Kuis kok tiba tiba-tiba, gak pake ngomong lagi" dumel Rossa. 

"Hus! berisik," ucap Hawa. 

___

Jam pelajaran Adam pun telah selesai. Anak-anak juga sudah keluar kelas. Alya ijin kepada kedua temannya untuk pulang duluan, karena ingin mengantarkan sang ibu. 

"Eh, Al ... gua bareng lu dong," pinta Rossa. 

Sebelum pulang lagi-lagi Rossa memperingatkan Hawa mengenai tugasnya jangan sampai lupa memberikan kepada Adam,karena takut nilainya turun. 

"Iya ... Iya ... Bawel!"

Hawa pun langsung menuju ke parkiran segera mencari flashdisk tugasnya, ia mengacak-acak seisi mobil, membuat isi di dalam kendaraan roda empatnya pun ikut berantakan. Kesal, barang yang dicari tak ketemu juga. 

"Duh, mana sih!" dumel Hawa. 

Ia terkejut membuat kepalanya membentur dashboard. ketika terdengar suara gedoran dari luar, Hawa mendongak,sambil memegangi kepala yang terasa sakit gadis itu membuka pintu mobilnya. 

"Kak Haikal! Bikin kaget deh!" ucap Hawa. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberutnya. 

"Nyari apa kamu?" tanya Haikal. 

"Flashdisk, Kak. Isinya itu tugas dari pak Adam, dan tadi sebelum berangkat, aku ngerasa sudah membawanya, tetapi sampai di kelas tidak ada lagi." Cerocos Hawa. 

"Uh, dasar! Miss Ceroboh! Tak pernah hilang-hilang dari dulu, nih! Apa?" tunjuk Haikal. Memberikan flashdisk yang ditemukanya pagi tadi di dekat pintu mobil. Hawa langsung memasang ekspersi sumeringahnya.

"Alhamdulilah ... ah lega ... Kakak ketemu di mana? tanya Hawa. 

"Nih ... di bawah mobil kamu, untung nemu, coba kalau nggak? Ceroboh banget kamu, tahu sendiri bagaimana Adam,  bisa-bisa mengulang dibuatnya," omel Haikal pada Hawa. 

"Ya Allah ... ah iya, makasih kakak Haikalku yang tampan," ucap Hawa sambil tertawa. 

"Ah, kamu, ada maunya aja, baru lu bilang gua tampan, emangnya selama ini kakakmu ini tidak tampan gitu?" ucap Haikal. 

Hawa meletakan telunjuknya di keningnya, sambil tertawa dia menggelengkan kepalanya. "Enggak," ucapnya lalu tersenyum. Haikal menjambak rambutnya pelan. "Dasar!" 

Hawa pamit pada Haikal, hendak memberikan flashdisknya pada Adam. Ia takut sang dosen keburu pulang. 

"Iya, Belum kok, tuh motornya masih di sana!" tunjuk Haikal. 

"Oke, dadaaah ... kak Haikal, Assalamu'alaikum ...." 

Hawa pun meninggalkan Haikal sambil berlari kecil. 

"Wa'alaikumsalam, dasar bocah!"

***

Hawa mengatur napasnya yang naik turun saat menaiki anak tangga di kampusnya, keringatnya pun mulai bercucuran. Jika bukan karena memikirkan tugas kelompok dan mempengaruhi nilai sang sahabat Rossa, dirinya enggan harus bolak-balik dan mencari sang dosen. Jika bukan karena kesalahannya sendiri. 

"Duh, kok sepi sih, pak Adam ke mana ya?" Hawa melihat ruangan Dosen sudah tampak sepi, hanya tinggal beberapa saja yang ada di ruangan itu. Tak lama kemudian, keluarlah seorang petugas kebersihan dari ruang tersebut. 

"Mang ... Mang ... numpang tanya, lihat pak Adam tidak? " 

"Iya saya, Neng. Ada tuh ... lagi beres-beres tadi, dan banyak benda-benda kecil yang seperti Neng pegang itu di meja pak Adam." 

"Ehm, gitu ya, Mang, makasih ya ...."

Hawa lalu Memberikan selembar uang pada petugas kebersihan kampus itu."Buat ngopi, Mang," ucap Hawa sambil tersenyum. 

"Alhamdulillah, Makasih, Neng. Semoga Allah memberikan Neng rezeki yang lebih baik lagi."

"Aamiin..."

Hawa mencoba masuk ke ruangan itu. 

"Permisi, Pak," sapa Hawa kepada salah satu dosen yang masih ada di dalam.

"Iya, masuk saja." 

"Maaf, Pak, saya mau cari pak Adam, ada?"

"Oh kamu, ada,  lagi salat sepertinya, tunggu aja sebentar," jawab dosen itu.

"Iya, Pak, terimakasih."

Tidak beberapa lama kemudian, Adam pun keluar dari ruangan salat, kembali duduk pada kursinya. 

"Sore ... Pak, Ini flashdisk tugas saya," ucap Hawa, sambil menyodorkan flashdisknya kepada Adam.

"Oh ya sudah." jawab Adam dengan cuek tanpa melihat. Melanjutkan kembali pekerjaannya. 

Hawa meletakan falshdisk itu di dekat laptop Adam. 

"Saya permisi, Pak." Hawa keluar dari ruangan itu. 

***

Sesampainya Hawa di rumah dan melihat Doni yang sudah pulang juga.

"Assalamu'alaikum, Kak!" 

Gadis itu langsung menyalami sang kakak lalu duduk di sofa menyandarkan tubuh lelahnya. 

"Wa'alaikumsalam, dari mana saja baru pulang hampir maghrib ini." 

Gadis itu menceritakan masalah yang ada di kampusnya tadi, sambil menyandarkan kepala di bahu sang kakak. 

"Makan sana ... nanti sakit, kakak tak mau kamu sakit,  karena yang kakak punya hanya kamu, dan tinggal kamu."

"Kakakku sayang ... ngomong apa sih, adekmu sehat -sehat saja, Iya nih aku makan, udah lapar juga." Hawa lalu meninggalkan Doni menuju dapur. 

'Ada hal yang kamu tidak tau, Dek. Kakak tak mau bikin kamu sedih jika tahu keadaanmu sebenarnya.' 

'Mama, Papa udah tidak ada lagi, kakak yang harus tanggung jawab atas semua yang terjadi pada kamu, Nanti ... jika sudah waktunya, pasti kakak akan beritahu  yang sebenarnya. Jika sekarang kakak tidak mau menghilangkan semangat dan keceriaanmu,' ucap Doni dalam hatinya. 

***

Keesokan harinya di kampus Dara menemui Hawa dan kedua temannya, gadis itu juga salah satu teman Hawa,  Rossa dan juga Alya. 

Dara adalah adik kandung dari Adam, tetapi tidak ada satu pun yang tahu jika ia adalah adik dari dosen di kampus mereka. Gadis itu menemui Hawa yang lagi duduk di taman. 

"Wa, Sha, kalian berdua dipanggil pak Adam ke ruangannya." ucap Dara. 

"Ada apalagi, elu udah kasih tugasnya kan, Wa?" tanya Rossa. 

Hawa mengangguk. Keduanya pergi tanpa tahu apa penyebab mereka dipanggil Adam untuk menemuinya.

"Makasih ya, Dar,  kita pergi dulu."

"Gua takut, Wa ... deg-degan nih," ucap Rossa. 

Hawa menghentikan langkahnya, kamu takut deg- degan  kenapa?" tanya Hawa.

"Tidak apa-apa, kok, ya udah lanjut yuk,"  Rossa menarik lengan Hawa. 

"Aduh ... dasar. anak aneh," celetuk Hawa. 

Sampai Hawa dan Rossa di depan pintu ruangan Adam, lama saling pandang-pandangan, ditambah aksi dorong-dorangan siapa yang harus mengetuk pintu.

"Lu ketuk dong, Wa ..." 

Tbc...

Haikal = tetangganya, teman 1 kampus

Bersambung

No comments:

Post a Comment

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER