Sunday, April 12, 2020

CINTA TIGA HATI 01


Cinta Tiga Hati 
part 01 

“Vanes, tolong kamu pikirkan saran ibu. Semua demi Sean dan Kakakmu, Mili.”
Suara mamanya yang sendu hanya didengar tanpa ditanggapi oleh Vanesa. Matanya melirik pada bayi laki-laki umur setahun yang merangkak di pangkuannya.

Ini adalah cuti pertamanya setelah kematian kakak kandungnya, Mili. Beberapa bulan lalu kakaknya meninggal karena penyakit yang menggerogoti dari kecil dan meninggalkan suami beserta anak laki-lakinya, Sean.

“Nggak bisa gitu, Ma. Udah hampir lima tahun ini, Vanes berusaha meniti karir. Sekarang aku mendapatkannya, posisi yang aku mau. Lalu Mama menyuruhku menikah? Hanya demi anak ini?”

Vanesa menunjuk bayi yang sekarang merengek minta digendong. Cuti selama dua minggu, Vanesa habiskan waktunya dengan mengasuh ponakannya yang lucu.

Kedekatan mereka tidak hanya membuat Sean gembira tapi juga seluruh keluarga Vanesa. Hal yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan.

“Vanes, coba kamu pikirkan sekali lagi, Nak? Mama tidak menyuruhmu berhenti bekerja. Setelah menikah dengan Kakakmu, Mama yakin dia akan tetap membiarkan kamu bekerja.”

“Itulah masalahnya, Ma. Aku menganggapnya hanya sebagai Kakak.”
Vanesa meraih Sean dan menggendong di pinggangnya. Membuai anak kecil montok di tangannya dengan ciuman dan belaian.

“Aku yakin, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Sayang. Demi Sean, demi almarhum Kakakmu. Seandainya, Mama berada dekat di kota ini, aku yang akan merawat Sean tanpa bantuan kamu.”

Vanesa tidak menjawab, tangannya sibuk mengitik-ngitik perut ponakannya dengan pikiran melayang pada orang tuanya. Papa lebih suka tinggal di kampung dan mau nggak mau mamanya ikut menemani.

Sementara Sean harus ikut bersama papanya. Mereka berharap dengan Vanesa menjadi istri Ronald maka akan ada ibu yang mengurus Sean.

Aku bukan wanita pengganti, yang digunakan hanya saat dibutuhkan. Pikir Vanesa muram.

“Mama pergi dulu ke rumah Tantemu, pulang nanti agak malam. Tolong kamu jaga Sean ya?”

Sepanjang sore, Vanesa mengasuh ponakannya yang lucu. Dua hari lagi dia harus kembali bekerja.

Dengan waktu yang tersisa selama cuti dia ingin memuaskan waktunya dengan mencintai dan menyayangi Sean. Hal yang tidak mungkin dia lakukan saat sudah kembali bekerja.

Bel pintu berbunyi saat Vanesa baru saja selesai memandikan Sean. Dia menatap daster hijaunya yang basah kuyup. Mendesah pelan dan meraih bayi di pinggangnya.

Mamanya pasti pulang lebih cepat, tanpa memedulikan penampilannya yang acak-acakan, Vanesa pergi membuka pintu.

“Mama, koq pulang lebih cepat?”

“Vanes?”

Vanes mendongak, memandang sesosok laki-laki yang terlihat letih tapi tampan dalam balutan kemeja putih. Ada jas yang tersampir di lengan kiri dan tas hitam di tangan kanan.

“Eih, Kak Ronald?” Dengan gugup Vanes membuka pintu dan membiarkan Ronald masuk ke dalam rumah.

“Hai, Sayang. Sini ikut, Papa!” Ronald bicara pada bayi di pinggang Vanesa. Tanpa sungkan meraih anaknya dan membuainya dalam pelukan.

Sadar dengan penampilannya yang acak-acakan,Vanesa berjalan menuju kamar mandi.

Tangannya bergerak cepat membersihkan peralatan mandi ponakannya yang berantakan. Setelahnya dengan selang menyemprot air untuk mencuci lantai agar tidak licin.

“Tinggalkan saja, Vanes. Biar nanti aku yang mengerjakan.”

Vanes mendongak, memandang Ronald yang berdiri di pintu kamar mandi dengan anaknya yang mulai tidur di pundaknya.

“Nggak apa-apa, Kak. Vanes sekalian mau mandi, tolong tidurkan Sean di kamar ya?”

Tanpa menunggu jawaban Ronald, Vanes menutup pintu kamar mandi dan bersandar di dinding.

Memejamkan mata, menghela napas panjang. Kehadiran Ronald yang tiba-tiba seperti menggoyahkan hatinya. Dia meraba jantungnya yang berdetak kencang lalu melangkah pelan menuju pancuran.

Untuk mengguyur tubuh dan pikirannya.

Kejutan menantinya saat keluar dari kamar mandi, Ronald sudah menunggu dengan secangkir kopi panas yang terhidang di atas meja.

“Minumlah Vanes, jika aku tidak salah ingat. Ini kopi robusta kesukaanmu.”

Diam-diam Vanes melirik Ronald yang belum mengganti bajunya.

Dia duduk dia atas kursi dan meraih cangkirnya yang mengepul. Aroma kopi sedikit menenangkannya.

“Kita sudah beberapa waktu menghindari ini tapi mungkin ini saat yang tepat untuk bicara.”

“Maksud Kakak apa?” tanya Vanes pelan.

“Aku tahu, keluargamu dan keluargaku mendesak agar kamu menikah denganku demi Sean.”

“Lalu?”

“Maukah kamu mempertimbangkannya? Menikah denganku?”

Vanes mendongak dari atas cangkirnya, memandang Ronald yang berdiri bersandar pada meja makan.

Meski tiga tahun sudah berlalu tapi dalam pandangan Vanes, Ronald masih sama tampannya seperti dulu. Hanya berubah lebih matang dan dewasa.

“Kamu jelas tahu jawabanku, Kak,” jawab Vanes pelan.

“Kenapa? Apa karena aku dulu meninggalkanmu untuk menikah dengan Mili, Kakakmu?” ucap Ronald hati-hati.

“Itu masa lalu, nggak ada hubungan sama hari ini. Sama kita. Dulu kita berpisah juga secara baik-baik,” tukas Vanesa.

“Itu dia, dulu kita berpisah demi Mili. Karena tubuhnya yang lemah dan sakit-sakitan makanya kita berdua rela berpisah demi dia. Harusnya kamu tahu bahwa aku tidak pernah bisa melupakanmu, Vanes!”

“Jangan bicara sembarangan! Itu bagian masa lalu kita,” sergah Vanesa tajam. Dia berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju jendela dapur yang terbuka. Matanya melayang pada bunga gardenia putih yang tertanam di pot di teras dapur.
“Aku sudah punya kekasih,” ujar Vanes pelan. “dan aku tidak akan meninggalkannya demi kamu, suami Kakakku.”

“Bagaimana jika demi, Sean? Apakah kamu bersedia?”

Vanes menoleh saat merasakan sentuhan ringan di lengannya dan terperangah begitu menyadari jika Ronald berdiri sangat dekat dengannya.

“Please? Pikirkan sekali lagi, tolong lakukan demi Sean.”

“Kamu terlalu egois, Kak.”

“Iya, memang. Demi kamu, demi Sean, aku akan bersikap seegois mungkin. Merebutmu kembali dari pacarmu atau siapa pun itu.”

Malam itu, sebelum Vanes pamit pulang dari rumah Ronald. Sebuah diary biru diberikan untuknya. Vanes tahu itu adalah diary milik almarhum kakaknya, Mili.

Sepanjang jalan selama di dalam mobil, Vanes membaca tulisan kakaknya secara pelahan.

Hingga satu kalimat menghantam perasaannya.

Maafkan Kakak, Sayang. Pada akhirnya apa pun yang ditutupi pasti akan terbuka bukan? Rahasia itu, jika sebenarnya kamu dan suamiku dulu saling mencintai dan kalian mengalah demi aku. Aku seorang wanita penyakitan dan jatuh cinta setengah mati pada kekasih Adiknya sendiri.

Beribu-ribu maaf, Kakak ucapkan sekarang. Seandainya aku bisa memutar waktu, tentu aku akan lebih tahu diri dengan tidak mengganggu hubungan kalian. Ronald seorang laki-laki yang baik, meski dia tidak mencintaiku tapi tidak pernah sekali pun menyakitiku.

 Jika terjadi sesuatu padaku, kamu tahu kan kondisi kesehatanku bagaimana? Kembalilah pada Ronald, demi dirimu dan diriku. Karena kita sama-sama mencintainya. Kakak mohon, Vanes.

Vanes mendekap diary di dadanya, menahan air mata yang jatuh membasahi pipi. Dalam pikirannya berkecamuk banyak hal, Ronald, Sean dan juga dirinya sendiri. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari dalam tas, memencet sebuah nomor dan berkata pelan saat tersambung.

“Aku bersedia menikah denganmu, Kak. Ayo, kita menikah.”

Bersambung

No comments:

Post a Comment

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER