Monday, October 10, 2022

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki 

#01

WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. Rambutnya yang basah tampak mengembang. Sesekali dia mengibas-ngibaskannya, mirip ekor sapi bergoyang kesana kemari.

Nunuk, itu namanya. Wajahnya selalu sumringah. Selalu sopan. Selalu menjaga tata krama. Saat ada seseorang pencari kayu yang melintas, dia langsung menawarkan diri.

“Mampir, Mbok!”.

“Kalau belum makan, disini banyak lauk dan nasi”, katanya lagi.

Mungkin saking pegalnya, si pencari kayu hanya menanggapi sekilas. “Sudah...”.

Nunuk memang membuka warung kecil-kecilan di bawah kaki gunung Penanggungan. Sudah hampir 5 tahun Nunuk hidup sebatang kara di hutan.

Dia hanya mengandalkan pendapatan dari warung. Selain itu, ya nafkah ala kadarnya dari suami- suaminya.

Yup, sejak memutuskan untuk mengasingkan diri dari keramaian kampung, Nunuk sering bergonta- ganti pasangan hidup. Tapi, dia enggan dibilang penganut poliandri. Tepatnya, menikah siri.

 “Saya menikah dengan suami-suami saya. Saya bukan penganut poliandri...”, bantahnya. 

Selama ini Nunuk mengaku telah menikah selama 9 kali. Semua laki-laki yang singgih di hatinya usianya rata-rata dibawah Nunuk. Dan, semua dinikahi secara siri, kecuali suami pertama dan kedua.

Tidak mengherankan jika sebagian orang yang pernah singgah di warungnya sering berbisik-bisik kalau perempuan itu suka dengan pria-pria muda. Sementara, usia Nunuk sendiri sudah tidak muda. Dari perawakan, dari cara bergerak, dan dari kekuatannya, dia seperti perempuan berusia antara 37-45 tahun. Tapi, itu salah. Usia sebenarnya…

“Ah, malu….”.

Nunuk memang selalu malu bila ditanya soal usia. Maklum, dia merasa usia tidaklah penting. Apalagi, bila menjalin hubungan dengan seseorang. “Yang namanya tidak pandang usia, suku, ras atau agama. Dalam cinta hanya ada satu kata, suka atau tidak suka....", demikian Nunuk.

Namun lambat laun, Nunuk akhirnya luluh juga dan bersedia memberitahu usia sebenarnya.

“Saya ini sebenarnya sudah tua. Bulan Maret usia saya genap 57 tahun”, ujarnya sambil menutupi muka.

Layaknya perempuan ABG, dia selalu berlagak manja di hadapan semua pengunjung- pengunjungnya. Karenanya, warung Nunuk tidak pernah sepi. Kalau pun sepi, itu hanya faktor cuaca.

Yah, selama ini kata Nunuk, cuaca semakin tidak menentu. Kadang cerah, kadang mendung.

“Kalau cerah, banyak yang kemari. Kalau gerimis atau hujan, ya sepi.. ”,lanjutnya.

Mengenai aktifitasnya sehari-hari, hanya berputar di tempat- tempat itu saja. Tidak ada yang wah.

Warung Nunuk terbuat dari kayu dan bambu. Sangat mungil tetapi cukuplah. Di warung itu Nunuk juga menetap. Baginya, warung itu ibarat rumah.

“Saya mencari makan disini, tidur juga disini”, akunya.

Bahkan tanpa malu Nunuk mengungkapkan urusan pribadinya. “Kalau mau berintim-intim ria ya di warung ini. Kadang kalau bosan ya disana...", katanya menunjuk kamar mandi yang terbuat dari alam. 

Kamar mandi itu hanya ditutupi anyaman bambu. Sementara di atasnya beralaskan langit. Didalam kamar mandi, ada semacam pancuran yang aliran airnya diambil dari sumber air di gunung Penanggungan.

*

Saat ini Nunuk memang tidak hidup sendirian. Dia bersama suami ke-sembilannya. Namun, suaminya jarang datang.

“Sudah tiga hari tidak datang. Mungkin dia di rumah istrinya...”, ceritanya dengan murung.

Suami Nunuk ini memang sudah berumah tangga. Dia sebelumnya juga termasuk tamu atau pengunjung warung. Dari situlah keduanya kemudian mengikat janji. Meski suaminya sudah beristri, tetapi Nunuk tidak keberatan untuk dimadu.

“Gimana lagi, namanya juga cinta. Yang penting kan nafkahnya tidak lupa...”, ucapnya peringisan.

Nunuk mengaku selama menetap di hutan, dia sering merasa kesepian.

“Bagaimana tidak kesepian, di tengah hutan sepi. Hanya ada suara-suara binatang. Bahkan kalau malam, suasananya sangat mencekam. Tapi kalau sudah biasa, ya waktu malam di sini tak beda dengan waktu siang. Semua sama saja. Yang sulit memang menghindari rasa kesepian yang setiap saat selalu datang", curhatnya.

Meski selalu hidup dalam kesendirian, namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Nunuk. Pasalnya, sejak kecil dia sudah dia ajarkan orangtuanya untuk hidup mandiri.

“Sulit hidup sendiri apalagi bila tidak ada pasangan. Cuma, saya juga kesulitan mencari pasangan dikarenakan sejarah masa lalu...”, kenang Nunuk.

Yah, sejarah masa lalu telah menghancurkan masa-masa indah perempuan tesebut. Kalau saat ini dia sudah menikah selama 9 kali, kemungkinan di tahun-tahun berikutnya, dia bisa menikah sampai 20 kali atau bahkan lebih.

“Saya ini dikutuk. Kalau saya menikah, suami saya selalu mati...”, katanya bersedih.

Sejenak dia mendongakkan kepalanya. Matanya menerawang ke atas, seolah-olah masih mengharapkan sisa-sisa kenangan yang tertinggal di atas sana. Tapi, semua tinggal kenangan. Digapai pun sudah tidak mungkin.

Nunuk mengatakan, sebelum bersama suaminya yang sekarang, dia pernah gonta ganti suami. Rupanya, gonta ganti suami sudah menjadi jalan hidup yang harus ditanggungnya. Nunuk mengungkapkan, kalau sekarang dirinya tidak akan bisa menikah secara sah dengan pria. Dia akan terus menjadi istri simpanan.

“Saya seumur hidup tidak akan bisa menjadi istri pertama. Saya tidak ditakdirkan untuk ke sana. Saya hanya akan menjadi istri simpanan. Sebab, saya telah dikutuk...”, urainya.

Nunuk cerita, kalau dirinya termasuk wanita bahu laweyan.


[bersambung]...

No comments:

Post a Comment

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER