Sunday, July 19, 2020

SETANGKAI MAWAR BUAT IBU 26

SETANGKAI MAWAR BUAT IBU  26
(Tien Kumalasari)

"Ibu, saya suaminya Arum." kata Aryo kembali menerangkan.
"Iya, saya sudah mendengar ketika anda mengatakannya," kata bu Suryo dingin.
"Ijinkan saya bertemu dia."
"Tapi dia tidak ada."
"Kemana?" 
"Saya tidak tau," kata Bu Suryo lalu kembali berteriak kepada Pono, sopirnya.
"No, kalau sudah selesai bilang ya.  Setelah yu Siti nanti kamu harus mengantarkan aku juga."
"Ya bu."
Aryo merasa kesal. Bu Suryo tidak menggubrisnya. 
"Bu..." Aryo mencoba memanggil ketika dilihatnya bu Suryo mau masuk kedalam rumah.
"Ma'af ya nak, sudah saya katakan kalau Arum tidak ada, coba datang lain kali saja. Saya sedang terburu-buru," kata bu Suryo sambil menghentikan langkahnya, hanya sebentar, lalu masuk kedalam rumah.
Aryo menghela nafas. Dia membalikkan tubuhnya, mencoba bertanya kepada laki-laki yang tampaknya sopir bu Suryo, tapi dia sudah tak ada disana. Setelah celingukan kesana kemari seperti anak hilang, Aryo segera melangkah keluar.
Kalau menurutkan kata hatinya, ia ingin berteriak memanggil Arum, tapi Aryo masih bisa menahan diri. Ia tak mengerti mengapa bu Suryo menghalanginya bertemu Arum.
Aryo memasuki mobilnya, tapi tidak langsung pergi. Ia masih berada disitu sampai sejam lebih, lalu dilihatnya mobil yang tadi dibersihkan keluar, dengan membawa entah siapa, karena tidak tampak dari luar. Ia juga melihat ketika sang sopir menggembok  gerbang besi, lalu kembali masuk ke mobilnya dan pergi. 
Aryo membuntutinya. Ia harus tau kemana Arum, dan mengapa bu Suryo menghalanginya untuk bertemu. Kaca mobil itu gelap, sama sekali tak tampak ada siapa didalam mobil itu. Gemas atas perlakuan bu Suryo, Aryo terus membuntutinya. Bahkan ia sekali menerjang lampu merah karena takut kehilangan buruannya. Aryo menyadari dirinya sangat sembrono, untunglah tak ada polisi melihatnya.
 
Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Aduh, ada apa sekretarisnya menelpone.Aryo mengangkatnya dengan kesal.
"Ya, ada apa?"
"Bapak dimana?" kata sang sekretaris dari seberang sana.
"Dijalan, masih belum bisa kekantor nih," katanya sambil terus mengawasi mobil bu Suryo. Agak terselip beberapa mobil dibelakangnya, karena sa'at menelpon ia memperlambat laju mobilnya.
"Bapak ditunggu meeting sekarang juga,, kata bapak sangat penting."
Bapak yang dimaksud adalah sang direktur utama. Aryo menghela nafas.
"Pak, bisakah bapak segera kekantor?"
"Ya..ya, sebentar, lalu ditutupnya ponselnya. Didepan ada lampu merah dan ia tak bisa lagi menerobosnya karena ada beberapa mobil didepannya.
Mobil bu Suryo tak tampak lagi. Ketika lampu hijau menyala, Aryo terus memacu mobilnya, tapi setiba diperempatan berikutnya dia bingung, apakah mobil itu terus, atau belok kekiri, atau kekanan.  Aryo memukul-mukul kemudinya dengan putus asa.
Ponselnya berdering lagi. Aryo tak mengangkatnya.  Tapi ia kembali dan mengarahkan mobilnya kekantor. Apa boleh buat.
***

 "Ibu, sebenarnya kita mau kemana? Mengapa tiba-tiba kita harus pergi dari rumah?" tanya Arum yang keheranan karena tanpa berbicara sebelumnya, bu Suryo mengajaknya pergi, bersama yu Siti juga.
Bu Suryo tersenyum.
"Arum, ini memang disengaja oleh ibu. Ibu ingin membuat kejutan untuk kamu."
"Kejutan bagaimana bu?"
"Ibu punya sebuah rumah kecil yang ada didesa. Ibu punya sawah disana, yang dikerjakan oleh orang-orang desa. Kalau lagi senggang, ibu sering pergi kesana, menikmati udara dusun yang sejuk."
"Oh, pasti menyenangkan."
"Kamu pasti senang. Ibu sudah setahun tidak pergi kesana."
"Sejak ada Arum ya bu?"
"Benar. Ibu sibuk mengurus kamu. Tapi sekarang ibu ingin mengajak kamu kesana."
"Jauhkah?"
"Tidak, dekat saja, tapi agak dipinggiran kota. Tanya yu Siti, dia sudah sering ikut kesana, ya kan yu?"
"Benar nak, udaranya segar, banyak pohon sawo disana. Tapi sekarang kan belum musimnya ya bu," tukas yu Siti yang duduk disebelah Pono.
"Iya, tapi ada pohon jagung yang sedang berbuah. Sore nanti kita membakar jagung dihalaman."
Arum tersenyum senang. Barangkali ditempat teduh nyaman akan lebih menenangkan hatinya. Ia tak tau bahwa bu Suryo sedang menjauhkannya dari Aryo..
***

Dalam meeting itu Aryo sama sekali tidak konsentrasi dengan apa yang dibicarakan pimpinannya. Ia hanya mengangguk-angguk untuk melegakan. Ia ingin cepat-cepat selesai dan pergi. Hal pertama yang akan dilakukannya setelah meeting adalah menemui dokter Bram, o tidak, barangkali dokter Bram masih sibuk dengan pasien-pasiennya dirumah sakit. Ia harus menemui Rini. 
"Pasti dia yang mengatakan pada Arum bahwa aku telah menikahi dirinya," gumamnya dalam hati. Rasa geram karena merasa bahwa Rini tidak cukup membuat isterinya pergi, tapi masih ditambah menghalangi bersatunya kembali keluarganya, membuatnya sangat geram.
"Bapak sakit?" tiba-tiba suara lembut menyadarkannya. Sekretarisnya berdiri didekatnya, dan arena meeting sudah kosong.
"Oh, sudah selesai?" tanyanya dengan bingung. Tak ada siapapun diruang meeting itu kecuali dirinya dan sekretarisnya yang menyapanya.
"Sudah. Bapak sedari tadi tidak memperhatikan apapun."
"Oh, ma'af," lalu Aryo mengangkat tubuhnya yang semula bersandar.
"Bapak sakit?" tanya sang sekretaris lagi.
"Tidak, terimakasih."
Aryo berdiri dan kembali keruangannya, masih dengan hati gundah.
Ia membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan singkat. Salah satunya dari Ratih. Ada apa Ratih ? Terjadi sesuatu dengan Angga?
"Pak Aryo, saya minta ma'af, barusan bapak saya menelpon, agak kurang enak badan, jadi saya terpaksa pulang. Ibu Nastiti yang menjemput Angga." bunyi pesan itu.
Aryo melihat kearah jam tangannya, sudah jam dua, pasti Angga dan neneknya sudah sampai dirumah.
Aryo merasa lemas, banyak yang membebaninya hari ini. Ia pamit pada sekretarisnya lalu meninggalkan kantor.
Semoga Angga tidak rewel karena Ratih harus pergi.  Sakit apakah pak Kardi?
Aryo merasa tak enak kalau harus mendiamkannya. Ia menelpon Ratih untuk menanyakan perihal sakit bapaknya.
"Hallo, bu Ratih?" sapanya 
"Ya pak, " jawab Ratih dari seberang sana.
"Bu Ratih dimana?"
"Dirumah sakit pak, masih menunggu antrian. Mungkin sebentar lagi baru dapat giliran."
"Bapak sakit apa?"
"Tadi pagi memang bilang agak pusing, saya sudah memintanya untuk istirahat setelah makan, tapi agak siang bapak menelpon, katanya merasa mual dan muntah, jadi saya terpaksa pulang. Ma'af ya pak."
"Tidak apa-apa bu Ratih, saya akan menyusul bu Ratih kerumah sakit, setelah melihat keadaan Angga. Saya baru selesai meeting jadi baru membuka pesan bu Ratih."
"Apakah Angga rewel?"
"Semoga saja tidak, saya baru akan pulang sebentar."
"Bapak tidak usah menyusul kerumah sakit, bapak sudah bersama saya dan tampaknya baik-baik saja."
"Nggak apa-apa bu, saya ingin melihat keadaan bapak."
Aryo menutup pembicaraan itu lalu bergegas pulang.
***

Tapi sampai dirumah dilihatnya Angga sudah tertidur.
""Nak Ratih pulang karena ayahnya sakit," kata bu Nastiti.
"Iya, tadi sudah mengabari Aryo. Angga rewel?"
"Nggak,nak Ratih bilang ada pekerjaan lain dan janji akan datang besok pagi-pagi."
"Syukurlah, Aryo akan menyusul bu Ratih kerumah sakit, kasihan, kita selalu merepotkannya, jadi saya juga harus perduli ketika dia kerepotan."
"Betul Yo, itu bagus. Tapi bagaimana dengan Arum? Sudah ketemu dan bicara banyak?"
"Belum bu, nanti saya cerita lagi."
"Belum ketemu?"
"Arum pergi, itu kata ibunya, atau ibu angkatnya. Jadi saya belum bisa bertemu dia."
"Pergi kemana sepagi itu?"
"Entahlah, nanti Aryo akan cerita banyak, sekarang kerumah sakit dulu ya bu, keburu pak Kardi sudah pulang.
"Baiklah Yo, mudah-mudahan tidak sakit yang serius."
"Semoga bu."
Aryo menyusul kerumah sakit. Ditelponnya Ratih, sedang berada dimana.
"Saya di poli umum pak. Aduh, mengapa pak Aryo susah-susah datang kemari?"
Aryo bergegas menuju poli yang ditunjuk, dan menemukan Ratih dan bapaknya ada disana.
"Bagaimana keadaan bapak?"
"Nak Aryo kok susah-susah sampai kemari. Bapak tidak apa-apa,"
"Saya sudah pulang dari kantor pak, jadi waktu saya luang. Saya khawatir bapak kenapa-kenapa."
"Tidak, mungkin sebelumnya bapak tidur terlalu larut, "
Ketika nama pak Kardi dipanggil, Ratih mengantarkannya masuk. Aryo masih menunggu diruang tunggu. Tiba-tiba ia teringat ingin memaki-maki Rini. Tapi baru saja ia mengambil ponselnya, sebuah teguran mengejutkannya.
"Pak Aryo kok disini ? Kangen sama Rini ya?" katanya sambil tertawa cekikikan. 
Aryo yang merasa kesal menarik tangan Rini, diajaknya keluar halaman, yang agak jauh dari orang-orang. Rini mengikuti sambil tersenyum-senyum sendiri, senang tangannya digandeng laki-laki ganteng yang digandrunginya.
Tapi ia terkejut ketika setiba ditempat yang agak lapang itu Aryo melepaskan tangannya dengan keras, membuatnya hampir terjengkang.
"Aduh, pak Aryo kok gitu, kirain pak Aryo kangen sama Rini," katanya sambil cemberut.
"Katakan, mengapa kamu bilang sama Arum bahwa aku menikahi kamu!!" hardiknya.
Rini tercengang.
"Saya? Enggaaaak.. siapa yang bilang begitu?"
"Arum menuduh aku menikahi kamu, apa mataku sudah buta menjadikan kamu sebagai isteri?"
"Tunggu pak, aduh, jangan melotot begitu dong pak, Rini jadi takut."
"Katakan mengapa!!"
"Bukan, ya ampun pak.. Rini tidak pernah mengatakan itu. Justru Rini sendiri yang dimaki-maki bu Arum dan menuduh Rini sudah menjadi isteri bapak."
"Apa katamu?"
"Ketika bu Arum opname disini, saya mencoba mendatangi kamarnya, karena saya merasa ada yang aneh. Yang aneh itu adalah saya melihat wajah seperti bu Arum dirumah, tapi dirumah sakit Rini melihat wajah yang sama. Nah ketika saya masuk kekamarnya itulah bu Arum mengatakan bahwa mentang-mentang saya sudah jadi isterinya bapak. Saya juga terkejut, tapi senang sih," katanya sambil cengar cengir.
"Kamu bohong kan?"
"Sumpah  berani disambar geledeg deh pak ! Bukan saya mengatakannya, tapi bu Arum sendiri ."
Aryo menggaruk garuk kepalanya. Ia pergi meninggalkan Rini dan kembali ke poli. Dilihatnya Ratih dan ayahnya sudah keluar dari ruang pemeriksaan.
Rini yang semula mengikuti Aryo terkejut melihat Ratih. Langkahnya terhenti.
"Kok sekarang bu Arum bersama laki-laki tua itu?" gumamnya bingung.
Ratih yang melihat Rini menatapnya tajam. Tak ada keramahan dalam tatapan itu, karena Ratih juga jengkel atas kelakukan Rini.
Rini surut kebelakang dan pergi dari sana.
"Itu kan Rini?" katanya kepada Aryo.
"Ya, biarkan saja. Bagaimana kata dokter?"
"Tekanan bapak agak tinggi. Mual dan muntah disebabkan pusing yang amat sangat. Tadi mendapat suntikan, dan juga resep."
"Mana resepnya?"
"Biar saya ambil di apotik."
"Jangan, biar saya saja. Menunggu dirumah sakit terlalu lama, kasihan bapak. KIta beli di apotik saja."
Ratih mengulurkan resepnya.
"Saya akan mengantarkan bapak dan kamu pulang. Nanti obatnya saya yang belikan."
"Aduh, mengapa jadi merepotkan."
"Bu Ratih jangan bilang begitu. Mari pak, mobil saya ada disana," kata Aryo sambil menuntun pak Kardi dari sisi kiri, sedangkan Ratih dari sisi kanan.
Rini menatapnya dari kejauhan dengan heran.
"Siapa sebenarnya dia? Benarkah bu Arum itu kembar?"
Aryo membuka mobil untuk pak Kardi dibelakang, Ratih duduk didepan. Tapi ketika Aryo mau masuk kedalam mobil, seseorang menatapnya dengan tajam. Dokter Bram yang juga mau pulang, melihat Arum sudah bersama suaminya. Tapi siapa laki-laki setengah tua itu? 
"Mungkin ayahnya bu Arum. Tapi aku bersyukur kalau mereka sudah berbaikan."
Ada do'a dipanjatkan oleh dokter ganteng itu. Do'a dan harapan, semoga pasangan itu berbahagia.
***

Arum duduk didepan rumah kecil yang asri itu dengan perasaan nyaman. Bu Suryo sedang menemui orang-orang yang dipercaya, dan berkumpul didalam rumah.
Arum memandang ke sekeliling kebun. Benar yu Siti, ada beberapa pohon sawo di pelataran itu. 
"Dulu pernah datang kemari, ketika pohon sawo itu sedang berbuah lebat," tiba-tiba yu Siti sudah duduk disampingnya sambil membawakan secangkir wedang jahe.
"Senang sekali, pulang kekota membawa dua bakul penuh, yang kemudian dibagikan para tetangga."
"Sayang sa'at ini tidak sedang berbuah ya bu."
"Iya nak. Entah mengapa tiba-tiba ibu mengajak kita kemari. Tapi tampaknya ibu ada perlu bicara dengan petani-petani itu."
"Tapi hawanya segar, dan tenang ya bu, jauh dari hiruk pikuk kota."
"Benar, tapi kalau mau kemana-mana jauh nak. Belanja jauh. Tidak ada supermarket disini, adanya pasar tradisional."
"Bu Siti mau belanja ke pasar?"
"Entahlah nak, tapi ibu sudah belanja banyak sebelum kita sampai disini tadi kan? Ikan, sayur mayur, bumbu-bumbu."
"Apa kita akan lama tinggal disini?"
"Entahlah. Biasanya hanya sehari sih, tapi melihat belanjaan yang begitu banyak, tampaknya akan agak lama. Nak Arum tidak suka?"
"Suka. Terserah ibu saja. Bagi Arum dimanapun tak ada bedanya."
Tapi dari sinar matanya tampak bahwa ada sesuatu yang dipikirkannya. Urusan perceraian itu. Bukankah sebentar lagi sidang akan digelar? Tapi bukankah pengacara suaminya sudah mengatakan bahwa Aryo tak mau menceraikannya?
"Nak Arum memikirkan apa?"
"Tidak ada apa-apa bu," katanya sambil meraih cawan berisi wedang buatan yu Siti, lalu diteguknya perlahan.
"Ini rasa jahe, tapi sepertinya ada bumbunya yang lain ya bu."
"Itu dari jahe, sereh, daun jeruk, cengkeh dan kapulaga."
"Wah, banyak sekali bumbunya."
"Disini kalau malam udaranya dingin. Ibu selalu minta dibuatkan wedang seperti itu, agar badan menjadi hangat."
"Iya benar, terasa hangat."
Tiba-tiba bu Suryo keluar sambil mengulurkan ponsel.
"Arum, ini ada telephone dari dokter Bram, ibu lagi bicara sama mereka."
"Oh, terimakasih bu."
"Hallo, selamat sore dokter." sapa Arum ramah.
"Selamat sore, saya tadi kerumah, tapi rumah kosong, gerbangnya digembok."
"Iya dok, ceritanya ibu lagi mengajak saya beristirahat ditempat yang lebih tenang."
"Syukurlah. Bukunya sudah dibaca?"
"Sudah satu buku selesai. Ini juga saya bawa semua. Bagus ceritanya."
"Syukurlah kalau bu Arum senang."
"Terimakasih banyak dok, sudah susah-susah membeli buku untuk saya."
"Terimakasihnya sudah banyak diucapkan oleh bu Arum, jadi sudah saja, nanti saya kebanyakan makan ucapan terimakasih," canda dokter Bram.
Arum tertawa.
"Bu Arum, saya  ingin bicara banyak. Saya agak heran melihat kejadian ini."
"Ada apa dokter?"
"Ini tentang pak Aryo. Bu Arum sudah bertemu?"
Arum menggeleng. Lupa bahwa gelengan kepalanya tentu saja tak akan dilihat oleh dokter Bram karena mereka bicara ditelephone.
***
Bersambung

No comments:

Post a Comment

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER