Wednesday, April 29, 2020

CINTA TIGA HATI 19

Cinta Tiga Hati
Part 19


Tidak lama, dua pelayan berseragam datang membawa satu set peralatan minum dari porselen. Vanesa menduga di dalamnya kopi atau teh dan dugaannya benar ketika salah seorang pelayan menuang teh yang mengeluarkan aroma wangi ke dalam cangkir.

“Ingin makan sesuatu?” tanya Vico.

Vanesa menggeleng.

 “Teh saja cukup. Kamu mempermainkan aku, Vico?

Soal kue dan semuanya?”

Vico menggeleng, tangannya terangkat untuk memberi tanda pada dua pelayan agar meninggalkan mereka. Matanya memandang Vanesa terang-terangan.

“Dari dulu aku sangat menyukai kue buatanmu, Sayang.

“Sebegitu banyaak! Tidak mungkin lima ratus kotak kue kamu habiskan sendiri!” tukas Vanesa keras

“Tidak memang, aku hanya memakan sebagian kecilnya dan yang lain aku bagikan pada penghuni komplek beserta para keamanan dan orang lain.”

Jawaban Vico membuat Vanesa meradang.

Ini benar-benar memalukan.

Tadinya dia berniat datang untuk berkenalan dengan Bu Mariana dan berniat menawarkan kerja sama tapi siapa sangka malah berhadapan dengan Vico.

Vanesa menggertakkan gigi menahan marah.

Sungguh ini pengalaman sial untuknya, terkunci di rumah laki-laki yang tidak boleh dia dekati.

“Aku membuat kue dengan sungguh-sungguh.

Berharap bertemu dengan orang baik hati yang sudah mempercayakan uangnya padaku.

Siapa sangka … ada apa denganmu, Vico?”

Vico tidak menjawab, melirik wanita di sampingnya yang terlihat sedang emosi.

“Kamu makin cantik, Vanes,” desahnya memuja. “Aku rindu sekali.”

Vanesa menoleh terkejut, mengamati laki-laki yang pernah mengisi hatinya.

Ada lingkaran hitam di bawah mata dan wajah yang lebih tirus dari pertama kali mereka bertemu.

Apa dia terlalu sibuk hingga tidak ada waktu istirahat?

Sebagai pewaris tunggal banyak perusahaan besar, mungkin bekerja adalah prioritas hingga mengesampingkan waktu libur.

“Kamu terlihat lelah dan kurus, apa kamu baik-baik saja?

Aku lihat berita penembakan itu.”

Vico mengelus wajahnya.

Terlihat gurat kelelahan di sana. Seperti laki-laki yang banyak menanggung beban.

“Itu mungkin saingan bisnis kami atau orang yang pernah sakit hati dengan kami.

Tidak tahu juga karena polisi belum menemukan pelakunya.”

“Apa kamu takut?” tanya Vanesa.

Tanpa diiduga Vico mengangguk. “Iya, meski mobil punya kaca anti peluru tetap saja itu menakutkan.

Bagaimana jika dia mencari kesempatan untuk lebih dekat demi menghabisi nyawaku?”

Vanesa tidak menjawab.

Mengambil cangkir dan menghirup aroma teh sebelum menyesapnya perlahan.

Dia tidak mengerti dengan dunia orang kaya, penuh intrik dan kekejaman meski bergelimang harta.

Setidaknya dia berharap Vico akan baik-baik saja.

“Semoga Allah selalu melindungimu, Vico,” ucapnya perlahan.

Seketika senyum mereka di wajah tampan Vico.

“Terima kasih, Sayang.

Senang rasanya kita bisa mengobrol lagi seperti dulu.

Semenjak peristiwa di kafe aku sengaja berdiam diri untuk tidak mengusikmu.

Takut mereka tidak akan membiarkan hidupmu bebas.”

“Lalu? sekarang ini apa?” tanya Vanesa sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.

“Ini lain, karena aku terlalu kangen untuk bertemu.”

“Vico, sadarlah! Aku sudah menikah dan kamu bertunangan.”

Mendadak Vico bangkit dari kursinya dan tertawa terbahak-bahak sambil memandang Vanesa.

“Pernikahanmu secara paksa, kita tahu itu.

Aku masih berharap kelak kau akan kembali padaku.”

“Itu tidak mungkin,” sergah Vanesa.

“Kenapa?

Apa kamu sudah tidur dengan Ronald si brengsek itu!” ketus Vico berapi-api.

“Vico!”

“Nah kan, belum berarti. Tanya kenapa Vanesa?

Pasti karena satu hal, kamu sendiri tidak yakin dengan perasaanmu padanya kan? Karena ada aku dan Mili, iya kan, Sayang?”

Vanesa mendesah, bicara dengan Vico selalu menguras emosi.

Dia harus tabah.

Matanya mengawasi Sean yang tertawa di balik dinding kaca. Anaknya terlihat senang bergulingan ke sana kemari dengan dua suster menemaninya bermain.

Gemericik air dari kolam terasa nyaring di teras.

Vico berdiri dengan berkacak pinggang memandang Vanesa dengan superior.

“Ini rumah pribadiku, bahkan orang tuaku pun tidak tahu aku membeli rumah ini.

Aku bahkan sudah mendesain khusus untuk kamar Sean dan tempat bermainnya juga jika kelak kamu bercerai dan si brengsek itu tidak mau mengasuh anaknya.

Biar saja kita yang mengasuh.”

Vanesa menghela napas.

“Vico, semua hal tidak semudah yang kamu pikir.

Tidak semua hal di dunia bisa kamu dapatkan karena kamu kaya!”

“Aku akan mendapatkanmu dengan cinta bukan dengan uangku,” sanggah Vico.

Vanesa terdiam.

Mengawasi laki-laki tampan yang berdiri pongah di depannya.

Entah kenapa keadaan tidak pernah mudah semenjak dia menikah.

Awalnya dia berpikir jika mengatakan pada Vico bahwa dia menikah maka laki-laki itu akan melepaskannya.

Nyatanya tidak semudah itu, anak jutawan yang pernah mengisi hatinya bukan menyerah malah gigih mengejarnya.

Vanesa tidak pernah bermimpi menjadi Cinderela, gadis rakyat jelata yang menikah dengan pangeran kaya raya.

Dia sudah merasa beruntung dengan kehidupannya yang sekarang.

“Aku masih mengingat impianmu, Vanesa.

Tentang toko kue yang ingin kamu bangun sendiri.

Desain minimalis tapi cantik di mana kue yang disajikan selain bercita rasa tinggi tapi juga mempunyai bentuk yang unik.

Bukankah kau ingin sekolah pastry di Perancis?” tanya Vico.

Matanya memandang Vanesa yang sedang mengawasi Sean.

“Entahlah, sekarang ada Sean,” jawab Vanesa lirih tanpa melirik.

“Ada Sean bukan berarti kamu harus menyerah pada mimpimu.

Ayo, aku bantu kamu pergi ke Perancis, bawa Sean ke sana sekalian.

Kita bisa hidup bahagia di sana tanpa gangguan dari orang-orang resek macam Ronald!”

“Vico-Vico, berapa kali aku bilang kita tidak lagi sama seperti dulu.

Aku sudah menikah dan kamu punya Hana!”

Vico mengusap rambutnya yang tersisir rapi.

Menarik napas panjang dan membuangnya cepat.

Seperti ingin melemparkan keluar semua resah di dadanya.

“Hana gadis yang baik dan sosok yang menyenangkan.

Dari kecil dia sudah menyukaiku dan aku juga menyukainya.

Sempat terpikir untuk menunggu dia kembali dan menikah suatu saat. Itu dulu sebelum akhirnya aku bertemu denganmu.”

“Maaf.”

Ucapan maaf dari Vanesa mengusik hati Vico.

Dia mendekat dan berjongkok di depan Vanesa.

“Vico, berdiri! Mau apa kamu?” bisik Vanesa panik.

Tangan Vico melingkarinya dengan berpegangan pada bibir kursi.

“Biarkan aku melihatmu sekarang, bisa jadi esok kita tidak punya kesempatan seperti ini.

Semenjak peristiwa di kafe, meski ingin bertemu aku sengaja menyimpan rapat-rapat keinginanku karena tidak ingin melukaimu.

Dan aku juga tidak mau menyakiti hati orang tuaku, Vanes.

Sesungguhnya, aku tidak pernah melupakamu.

Bisa kau katakan aku gila dan aku memang gila karenamu.”

“Sadarlah, Vico. Aku bukan siapa-siapa?

Di luar sana masih banyak yang lebih layak untukmu.”

“Layak dalam arti apa?

Harta?

Justru karena kamu tak pernah menilaiku karena harta makanya aku selalu mencintaimu.

Aku tahu, Mamaku menekanmu bukan, agar menjauh dariku?

Mamaku mengancammu, kan?”

“Itu, bukan begitu,” jawab Vanesa gagap.

“Tidak perlu berbohong, aku memang tidak pernah memunculkan diri di hadapanmu tapi aku tahu apa saja yang kau lakukan dan siapa saja orang-orang yang berhubungan denganmu.”

“Kamu memata-mataiku?” tanya Vanesa heran.

Vico bangkit dari tempatnya dan berdiri gagah sambil tersenyum.

Sekilas terlihat kilatan bangga di matanya yang terbias sinar matahari.

Apakah Vanesa yang salah melihat atau memang Vico sedang menyombongkan diri?

“Aku tahu jika Mamaku tersayang mengunjungimu dan juga tunanganku yang cantik, Hana.

Aku juga tahu kau diberhentikan dari kantor karena membawa Sean bekerja.

Hei, apakah kamu tahu jika perusahaan lamamu sudah berganti pemilik?

Begitu aku tahu mereka berbuat semena-mena padamu, aku membeli saham mereka. Minggu depan pasti manager sialan yang pernah memecatmu akan memohon kamu kembali, Vanes.”

“Untuk apa kau lakukan itu?” tanya Vanesa dengan suara tertekan.

“Untuk membalas rasa sakitmu.

Perusahaan itu sedang sekarat, mereka butuh suntikan dana segar.

Dan sebagai syarat utama adalah kamu kembali bekerja ke sana.

Keputusan ada di tanganmu. Ingin kembali atau tidak.”

“Uang membuatmu mempermainkan hidup orang lain, Vico.

Di sana banyak pekerja lain?

Jangan membuat mereka menderita.”

Vico tersenyum, menunduk dan menatap Vanesa yang terlihat sedih.

“Tidak, aku akan tetap menjaga perusahaan roti itu tetap berdiri.

Hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang memecatmu.

Itu saja.”

“Vico, mau sampai kapan kamu begini?

Sadarlah, ini bukan cinta tapi obeses.”

“Sadar tentang apa?

Cinta dan obsesiku ke kamu?

Tidak akan pernah.

Persaingan dunia bisnis sangat kejam.

Aku berusaha mati-matian membuktikan diri jika aku pantas menjadi seorang pewaris.

Papaku juga setuju, jika aku dianggap berhasil maka permintaanku akan terkabulkan. Hanya satu inginku, menikahimu.”

“Aku tidak pantas diperebutkan seperti itu,” desah Vanesa dengan gundah.

Menggigit bibir untuk menahan perasaan sedih.

“Tidak, kau sangat pantas.

Vanesa yang baik hati dan keras kepala.

Wanita tangguh yang selalu rela berkorban demi orang lain, tidak silau karena harta. Kamu pantas dimiliki.

Aku mencintaimu, Sayang.”

Vanesa tidak menjawab pernyataan Vico.

Sudah cukup banyak yang dia dengar hari ini.

Tentang sepak terjang Vico dalam membelanya.

Pertemuan dengan Vico hari ini seperti mengail kembali cinta yang sudah tertutup. Bagaimana dengan Ronald suaminya?

Bukankah hari-hari terakhir ini mereka mulai membuka hati?

Vanesa bahkan berharap melupakan perjanjian pra nikah yang dia buat dengan Ronald.

Tanpa sadar tangannya menepuk jantungnya yang berdetak tak karuan, merasa kalut.

“Hana wanita yang baik juga cantik. Aku menyukainya,” ucap Vanesa pelan.

“Sama, aku juga menyukainya.

Hanya sebagai adik bukan wanita.”

Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.

Vanesa menoleh dan berdiri seketika saat mendengar jeritan Sean.

Melangkah tergesa ke ruang kaca dengan Vico di belakangnya untuk melihat apa yang terjadi.

Sean menyongsong kedatangan mamanya dengan air mata berlinang.

Vanesa menggedong anaknya dan berucap pelan.

“Ada apa, Sayang?

Capai mainnya ya?”

“Apa apa, Vanes?

Sean kenapa?” tanya Vico kuatir.

“Tidak ada apa-apa.

Waktunya minum susu dan bobo siang buat si bayi.”

Vanesa menggendong Sean dan memangkunya di kursi tempat dia mengobrol.

Sementara Sean asyik menyedot susu, tangannya sibuk mengelap keringat di dahi dan tubuh anaknya.

Tidak menyadari Vico yang memandanganya lekat-lekat.

“Aku harus pulang, Vico.

Kasihan Sean kelelahan.”

“Baiklah, aku ijinkan kalian pulang sekarang tapi please, jangan menghindariku. Setidaknya jangan memblokir teleponku.”

Vanesa tidak menjawab tapi mengangguk kecil, mengangkat Sean yang mulai tertidur di bahunya dan berjalan mengikuti Vico yang melangkah keluar lebih dulu.

“Aku sudah menyiapkan sopir dan mobil untuk mengantarmu pulang,” ucap Vico sewaktu mereka tiba di teras.

“Tidak usah, aku bisa naik taxi.”

“Jangan, biarkan sopir mengantarmu.”

Belum sempat Vanesa membantah,

Vico mendorongnya menuju mobil hitam di garasi yang sudah terbuka pintunya.

Ada dua orang berseragam hitam berdiri di samping kanan dan kiri pintu bagian depan.

“Mereka akan mengantarmu,” ucap Vico sambil membantu Vanesa masuk.

Tiba-tiba sesuatu terjadi dan membuat semua yang ada di teras tiarap ketakutan saat sebuah benda hitam dilemparkan dari jalanan ke arah rumah.

Melewati pagar tinggi lalu jatuh dan menggelinding di teras.

Ledakan memekakkan ditimpa oleh suara hancurnya kaca.

Vico menutup pintu mobil di mana Vanesa duduk dengan tubuhnya.

Sean menangis kencang dan Vanesa menunduk untuk melindungi anaknya.

Orang-orang berlarian keluar dari dalam rumah, pelayan, penjaga dan para bodyguard.

Suara alarm mobil bersahutan dengan keras.

Tidak lama terdengar teriakan Vico memberi perintah. “Tangkap dia, kejar! Jangan biarkan lolos!”

Samar-samar dalam kepulan asap hitam, Vanesa melihat beberapa orang berseragam berlari menuju jalanan dan menghilang dengan motor mereka.

Tangannya gemetar untuk menenangkan anaknya yang masih menangis.

Mereka terduduk di mobil dengan jantung berdegup tak karuan.

“Vanesa, kalian tidak apa-apa?” tanya Vico menyibakkan rambut dari wajah Vanesa dan memandang Sean yang menangis.

Ada serpihan kaca di bajunya.

“Aku nggak apa-apa, hanya kaget.

Apa itu?” tanya Vanesa gugup.

“Bukan apa-apa.

Untung kalian ada di dalam mobil.” Vico mengusap rambutnya, “kasihan Sean, pasti dia kaget sekali.

Pulanglah, biarkan sopirku mengantarmu.

Jangan takut, mobil ini anti peluru.”

“Tapi. Vico. Bagaimana denganmu?” tanya Vanesa memandang penampilan Vico yang acak-acakan dan wajah pucat pasi.

Dua orang yang semula tiarap kini duduk di dalam mobil.

“Aku baik-baik saja, teror ini memang dimaksudkan untukku.

Selamat jalan, Sayang. sampai ketemu lain hari.” ucap Vico sambil memandang dua lelaki di depan..

“Kalian jaga wanita dan anak ini, nyawa kalian sebagai taruhannya.

Jangan menuju jalan biasa karena sebentar lagi polisi dan wartawan akan datang.”

“Siap, Boss!” sahut sang sopir.

Pintu ditutup oleh Vico dan mesin mobil mulai menyala.

Vanesa tidak sempat mengucap selamat tinggal karena mobil yang membawanya sudah melaju cepat meninggalkan garasi.

Air mata mengalir saat mobil sudah berlari kencang di jalan raya.

Teror bom molotov tadi benar-benar mengguncangnya.

Beruntung dia dan Sean selamat.

Teringat bagaimana hancurnya teras rumah Vico membuat Vanesa gemetar.

Demi menenangkan diri sendiri, Vanesa mendekap erat-erat Sean di dadanya. Bersyukur masih dalam lindungan Tuhan.

Bersambung

1 comment:

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER