Saturday, August 22, 2020

Buah Hati 06

BUAH  HATIKU 06
Oleh : Tien Kumalasari

Bukan hanya Seruni yang terkejut, Indra yang duduk didekat istrinya juga terkejut. Dipandanginya wajah polos tanpa dosa itu sambil mengerutkan kening. Ia masih berdiri disana, barangkali menunggu jawaban majikannya atas pertanyaan yang diajukannya. Samasekali Surti tak tahu bahwa pertanyaan itu membuat  mereka  gusar.

"Kamu bilang apa ?" tanya Indra dengan wajah marah.

"Saya? Saya hanya bertanya, tapi kalau Bapak marah, saya minta maaf," kata Surti sambil mundur ingin berlalu.

"Tunggu Surti," kata Seruni agak keras.

Seruni berhenti, menatap kedua majikannya dengan heran. Ia tak tahu dimana letak kesalahannya. Ia justru berfikir, apakah seorang pembantu tidak boleh bertanya pada majikannya?

"Darimana kamu menemukan kata-kata itu?"

"Saya.. tidak menemukan apa-apa... Bu.. maaf..saya tidak mengerti..."

Lalu Indra menjadi semakin jengkel.

"Kata mandul itu kamu dapat dari mana? " hardiknya lebih keras, dan itu membuat Surti gemetaran. Ia belum pernah melihat majikannya semarah itu. Surti tetap saja tak bisa mengerti apa yang membuat majikannya marah.

"Man.. mandul..? Itu kan.. yang bilang Mbak Susi..."

"Siapa ?" kali ini Seruni menghardik.

"Eh.. Lua..lusi..."

"Apa?"

"Bukankah Mbak Susi yang mengatakannya?" lalu Surti terkejut sendiri, kok dia menyebut nama itu sih. Bagaimana kalau Lusi  marah? Justru itu yang difikirkan Surti.

"Siapa?" hardik Indra, membuat hati Surti semakin menciut.

"Susi.. eh.. Lusi.."

Indra dan istrinya saling pandang dengan gusar.

"Dimana kamu ketemu dia?" Indra bertanya, masih dengan nada tinggi.

"Lha dia kan,.. dia tadi.. eh.. maaf.. tidak.. tidak.."

"Apa dia kemari ?"

"Yyaa... eh.. tapi dia...dia.. melarang.. melarang.. saya.. saya mengatakannya."

"Maksudnya tadi Lusi kemari, lalu kamu dipesan supaya tidak bilang bahwa dia kemari?"

"Maaf Bu.. saya.. bingung..," sekarang Surti hampir menangis.

"Ya sudah, kamu ke belakang sana, sudah, jangan menangis," kata Seruni yang merasa kasihan juga melihat Surti ketakutan.

Surti membalikkan tubuh dan setengah berlari menuju kebelakang, langsung masuk ke dalam kamarnya, menangis barangkali, entahlah.

"Darimana Lusi menemukan kata mandul itu?" tanya Indra heran.

"Aku juga heran. Tapi barangkali dia ke rumah, lalu Ibu mengatakannya."

"Sungguh terlalu."

"Hm, lalu untuk apa Lusi mengatakan itu pada Surti ? Pasti dia punya maksud untuk menjelek-jelekkan aku."

"Ya sudah, jangan hiraukan."

Seruni diam, meraih biji-biji kurma muda dan mengunyahnya dengan nikmat. Tak ada gunanya memusingkan kelakuan Lusi. 

***

Surti terisak di kamarnya. Ia mencari dimana letak kesalahannya.  Karena mengatakan mandul itu? Ia malah merasa bersalah pada Lusi karena melanggar larangannya untuk menutup mulut. Alangkah naif gadis bernama Surti ini.

"Surti..." 

Surti terkejut, mengusap air matanya dengan tergesa lalu membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Seruni berdiri di depan kamarnya.

"Maaf Bu Indra."

"Kamu tidak usah menangis. Aku tahu kamu tadi ketemu Lusi, tidak usah takut mengatakannya. Kami tidak akan marah kok."

"Tapi Mbak Lusi bilang saya tidak boleh mengatakan kalau tadi dia kemari."

"Mengapa harus begitu? Dia mengatakan apa saja?"

"Karena sudah terlanjur, ya saya katakan saja, tapi Bu Indra jangan marah."

"Tidak, aku tahu kamu kok Sur. Katakan apa saja yang dia bilang?"

"Dia bilang bahwa.. Ibu mandul, jadi tidak akan bisa punya anak.."

"Hm.. lalu.. ?"

"Lalu... dia bilang..bahwa Pak Indra itu ganteng.. "

"Lalu..."

"Dia menyuruh saya menggodanya."

"Haaaa?" Seruni tersenyum lucu..

"Supaya saya bisa punya anak..."

"Lalu.....?"

"Sudah Bu, saya bingung mendengarkan kata-katanya."

"Ya sudah tidak usah bingung. Yang harus kamu tahu, lakukanlah hal terbaik, berperilaku sopan. Kamu tahu, bertanya sesuatu kepada majikan yang itu bukan urusan kamu itu tidak sopan."

"Ooh, jadi ketika saya bertanya tentang kurma muda itu... berarti tidak sopan?"

"Kamu harus belajar melakukan sesuatu yang baik. Kalau ingin bertanya, tanyakan apa yang ada hubungannya dengan diri kamu. Misalnya tidak tahu apa yang menjadi tugas kamu, tidak tahu cara membumbui masakan, itu semua ada hubungannya dengan diri kamu. Tapi pertanyaan tentang kurma muda bahwa aku mandul itu tidak sopan, karena itu bukan urusan kamu."

"Iya Bu, saya akan belajar. Memang saya orang kampung."

"Jangan karena kamu orang kampung maka kamu bebas melakukan apa yang tidak pantas. Orang kampung juga bisa bersikap sopan, berperilaku baik, menghormati orang lain..Kamu harus belajar Surti, supaya kamu disukai semua orang."

"Saya minta maaf ya Bu. Saya tidak akan mengulanginya."

"Bagus Surti."

"Saya juga tidak akan menggoda Pak Indra, biarpun Pak Indra itu ganteng."

Seruni menahan senyumnya.

"Kamu boleh menyiapkan makan malam sekarang."

"Baik Bu."

***

Indra terbahak ketika Seruni mengatakan apa yang diceritakan Surti.

"Surti menggoda aku?"

"Siapa tahu Mas tergoda. Dia juga cantik kok."

"Masa aku tergoda sama pembantu?"

"Eh, jangan menghina Mas, pembantu juga manusia. Dia juga punya cinta."

"Ya jangan salah menempatkan cinta itu dong."

"Cinta tak pernah salah.."

"Tergantung .."

"Tergantung apa?"

"Tergantung bagaimana menempatkannya, kalau cinta lalu tak tahu dimana akan menempatkannya, bisa runyam."

"Misalnya...?"

"Misalnya aku jatuh cinta pada seorang  bintang film terkenal.. ya pungguk merindukan bulan dong namanya. Kalau nekat ya namanya tidak bisa menempatkan rasa itu."

"Kok Mas cinta sama aku ?"

"Kamu itu rembulan yang sudah aku petik dari langit sana."

"Ih, nggak nyambung deh." 

Indra tersenyum, dan Seruni mengakui, memang suaminya ganteng sekali. Direbahkannya kepalanya di dada suaminya, yang kemudian mengelus kepalanya dengan lembut.

***

Indra terkejut ketika siang itu Lusi muncul di kantornya. Ia ingin menegur sekretarisnya yang membiarkannya masuk, tapi sekretaris bilang bahwa dia nekat.

"Saya suruh menunggu agar saya konfirmasi dulu dengan Bapak, tapi dia nekat menyerobot masuk," kata sekretaris yang mengikuti Lusi masuk ke dalam ruangan.

"Ya sudah," Indra menjawab kesal.

Sekretaris itu ke luar, dan Lusi duduk begitu saja di depan Indra.

"Ada apa?"

"Indra, mengapa sikapmu selalu kasar begitu kalau sama aku? Memangnya aku salah apa? Ingat jaman kita masih kuliah dulu, kamu begitu baik sama aku."

"Aku baik kepada semua orang, bukan cuma sama kamu."

"Okey, lalu mengapa sekarang sikapmu begitu acuh terhadapku?"

"Kamu sudah kelewatan. Kamu masuk ke dalam rumah tanggaku dan berusaha merusaknya."

"Apa ?"

"Darimana kamu mendapatkan istilah mandul itu, lalu mengatakannya kepada pembantuku?"

Lusi teregun, rupanya Surti yang bodoh itu mengatakannya pada Indra, dan pastinya juga kepada Seruni.

"Indra, jangan anggap aku orang lain. Kalau aku tahu masalahmu, aku justru ingin membantu."

"Apa maksudmu? Siapa bilang kamu bisa membantu masalahku?"

"Ayah dan Ibumu ingin sekali memiliki cucu."

"Yaaa.. lalu?"

"Aku bisa membantu kamu Ndra.."

"Apa?"

"Aku bisa memiliki anak, anakku sudah dua.."

"Gila !! Betapa rendahnya seorang wanita menawarkan tubuhnya kepada laki-laki yang bukan apa-apanya."

"Indra, kamu menghina aku, mengatakan aku rendah?"

"Bukan aku yang mengatakannya, tapi sikap kamu itu yang menunjukkannya."

"Tapi aku masih cinta sama kamu Indra."

"Dulu pun aku tidak pernah mencintai kamu, dan sekarang pergilah, karena pekerjaanku masih banyak."

"Indra..Kasihanilah kedua orangtua kamu Ndra. Mereka ingin segera punya cucu."

"Itu bukan urusan kamu, memangnya kamu siapa? Kamu sudah menyuruh Surti menggoda aku, dan sekarang kamu sendiri ingin meluluhkan hatiku?"

Indra berdiri, membuka pintu ruangannya, dan mempersilakan Lusi keluar."

Lalu setelah Lusi keluar, Indra memanggil sekretarisnya, dan berpesan agar kalau wanita itu datang jangan sampai mengijinkannya masuk, apapun caranya.

***

"Surti, sini aku beri tahu bagaimana caranya dandan.. " kata Seruni ketika siang hari itu selesai masak.

"Sekarang Bu ?"

"Ya, sekarang. Sini.. bawa alat make up kamu."

Surti masuk ke kamar, mengambil alat make up yang pernah dibelinya. Kemudian Seruni menyuruhnya duduk di kursi pendek.

"Sebenarnya kamu itu sudah cantik. Nggak usah dandan juga sudah cantik. Aku sendiri selalu dandan dengan sapuan tipis-tipis diwajah. Tapi baiklah, sekedar kamu tahu cara berdandan saja."

Seruni mengusap wajah Surti dengan bedak, menyapu dengan rona merah yang sangat tipis, melukis alis hanya sedikit memperpanjangnya, dan lipstik yang tidak terlalu tebal, dan menyapu bibir yang sudah berlipstik itu dengan sedikit bedak sehingga warna merahnya tidak menyolok.

"Hm, selesai... sekarang kamu sudah berbeda. Berkaca sana, dan lihat apakah kamu suka."

Surti bergegas ke kamarnya, menatap wajahnya di kaca lama sekali, dan mengagumi sapuan make up yang merubah wajahnya menjadi semakin cantik.

"Ahaa... aku suka.. aku suka.. Bu Indra pintar mendandani, walau dirinya sendiri tak suka berdandan. Ternyata sapuan diwajah yang tak terlalu menyolok lebih tampak cantik. Tidak seperti limbuk ketika aku berdandan sendiri,"

"Tapi dandanan begitu tidak harus dipakai sehari-hari, nanti kamu dikira pesolek," kata Seruni sambil melongok ke dalam kamar Surti.

Surti tersipu.

"Itu sekedar kamu tahu saja, belajarlah tapi tidak harus dipakai sehari-hari," lanjut Seruni.

"Iya, saya tahu. Terimakasih Bu."

Banyak hal yang diajarkan Seruni kepada Surti. Bukan hanya cara memasak, cara berdandan, tapi juga berlaku sopan kepada siapapun juga. Mengajarkan hal yang pantas dilakukan dan yang tidak.

***

"Bapak tidak ingin menanyakan lagi pada Indra?" kata Bu Prastowo pada suatu hari.

"Menanyakan hal apa lagi Bu?"

"Anjuran untuk menikah lagi."

"Tidak, aku sudah bicara, dan dia seperti tidak menanggapi. Biarkan saja," kata Pak Prastowo kesal.

"Apakah kita datangi saja mereka, jangan hanya menelpon?"

"Tidak Bu, sudahlah, mari kita menerima nasib saja."

"Menerima nasib, hidup tanpa cucu dan kita tidak akan lagi memiliki keturunan setelah Indra?"

"Apa lagi yang harus kita perbuat Bu? Indra bukan anak kecil lagi, dia sudah tahu mana yang harus dilakukannya, tidak harus mematuhi kata orangtua."

"Bapak jangan putus asa."

"Aku putus harapan. Pasrah saja, kalau selalu dipikirkan kita bisa sakit. Mari kita mencoba menerima takdir kita."

Bu Prastowo menunduk dengan wajah sedih.

"Bagaimana kalau kita sarankan Indra agar menikahi Lusi?"

"Ibu ini bagaimana. Dulu nggak suka sama Lusi, sekarang ingin menjadikannya sebagai menantu. Aku juga menyesal Ibu dulu pernah bilang kepada Lusi bahwa Seruni mandul. Itu kan urusan keluarga kita sedangkan Lusi itu orang lain."

"Iya, aku waktu itu sangat marah pada Seruni, sehingga terlepas begitu saja kata-kata itu."

"Ya sudah, aku kira Lusi bukan orang baik."

"Iya sih, tapi kan Lusi bisa melahirkan anak."

"Tidak Bu, biarkan saja Indra melakukan apa yang dia mau, aku tak ingin lagi ikut campur."

***

Seruni dan Indra terus berusaha, mematuhi semua petunjuk dokter, meminum semua obat yang disarankan dokter. Namun setahun berlalu, tanda-tanda kehamilan itu belum juga nampak.

"Bu, ini kurma mudanya, ibu lupa belum memakannya pagi ini," kata Surti sambil meletakkan kotak berisi kurma muda itu dihadapan Seruni. Surti melakukannya karena setiap hari Seruni selalu minta agar Surti menyiapkan kurma muda itu untuknya. Itu adalah kurma muda  ke sekian kilo yang selalu dibelinya setiap habis.

Seruni menatap kurma muda itu dengan enggan. Berangsur kepercayaan akan khasiat kurma muda itu menjadi lenyap.

"Makanlah Seruni, Surti sudah mengingatkan, kok hanya dipandangi terus."

"Aku lelah Mas."

"Mengapa lelah? Bukankah kita sudah berjanji akan terus berusaha?"

"Sudah setahun lebih..."

"Dokter juga meminta agar kita bersabar bukan?"

Seruni terdiam. Indra mengambilkan sebutir kurma muda lalu dimasukkannya ke dalam mulut Seruni. Seruni menggigitnya, membuang bijinya dan mengunyahnya perlahan.

"Jangan bosan berusaha."

"Bapak sama Ibu tak pernah lagi menelpon Mas. Pasti mereka marah besar."

"Nanti kita akan kesana."

"Dan akan diajukannya usulan yang sama. Menceraikan aku, atau mencari istri muda."

Indra menghela nafas.

"Jangan begitu Seruni."

"Aku lelah Mas."

"Lalu kita harus bagaimana?"

"Menikahlah lagi."

"Mana mungkin aku bisa melakukannya? Aku hanya mencintai kamu."

"Demi anak untuk kamu Mas. Demi orangtuamu. Kalau orangtuaku sih sudah tidak ada, tapi Bapak dan Ibu mertuaku sangat berharap."

"Seruni, dengar.. aku tak mau menceraikan kamu."

"Aku rela dimadu Mas."

"Kalau kamu punya madu, apakah hidupmu akan tenteram? Ya kalau madumu itu baik, bisa menghormati kamu sebagai istri tua, kalau tidak, terus kalau dia benar-benar punya anak, lalu mencemooh kamu, merendahkan kamu bagaimana? Aku tidak akan terima kalau kamu menderita."

"Kalau begitu carilah istri yang tidak neko-neko, sederhana, dan bisa saling mengasihi."

"Dimana aku harus mencarinya?"

"Bagaimana kalau Surti Mas."

Dan Indra merasa, bumi tempatnya berpijak menjadi bergoyang. Matanya nyalang menatap istrinya dengan gusar yang meluap-luap."

Bersambung

1 comment:

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ajoqq^^cc
    mau dapat penghasil4n dengan cara lebih mudah....
    mari segera bergabung dengan kami.....
    di ajopk.biz...^_~
    segera di add Whatshapp : +855969190856

    ReplyDelete

JUDUL NOVEL

KISAH PEREMPUAN BAU LAWEYAN # 1

Kisah Perempuan Bahu Laweyan Yang Menikahi 9 Laki-laki  #01 WAJAHNYA tampak segar. Dia baru mandi dibawah pancuran air gunung Penanggungan. ...

POSTING POPULER