Home   Barokah   Hijriyah   Kesadaran   Ketenangan   Tawadhu'   Fitrah   Kepemimpinan   Sukses   Cinta   Musibah   Mental   Iklas  

Saturday, September 15, 2012

MEMAHAMI MAKNA TABLIGH




“Sampaikanlah olehmu apa yang datang dariku, walau hanya satu ayat”

Memahami Makna Tabligh

 
Dalam kegiatan rutin keagamaan, kita sudah sangat akrab dengan istilah tabligh. Kita juga sudah sangat akrab dengan istilah Tabligh Akbar, dan mengenal satu kelompok jama’ah yang menamakan diri sebagai jama’ah Tabligh. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tablîgh?

Secara bahasa, kata tabligh berasal dari kata ballagha-yaballighu-tablîghan yang berarti menyampaikan. Secara etimologis (asal-usul bahasa), sebenarnya kata tabligh merupakan bentuk transitif (muta’adi) dari kata intransitif (lazim) yaitu dari kata balagha-yablughu-bulûghan yang berarti sampai. Jadi, secara sederhana, tabligh berarti menyampaikan sesuatu (pesan) yang harus disampaikan kepada pihak-pihak tertentu (mukhâthab) sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Pembicaraan yang sesuai dengan tuntutan keadaan serta menggunakan kata-kata yang fasih disebut kalâm balîgh (KH.A.Wahab Muhsin&Drs.T. Fuad Wahab, Pokok-pokok Ilmu Balaghah hal. 21). Tuntutan keadaan atau situasi dan kondisi yang dimaksud misalnya:

1. Keadaan menyanjung, menuntut panjang lebar pembicaraan;
2. Keadaan mengejek, menuntut juga panjang lebar pembicaraan;
3. Berbicara di hadapan orang yang cerdas menuntut uraian singkat;
4. Kedunguan orang yang diajak bicara (mukhâthab), menuntut pembicaraan yang jelas dan diulang-ulang;
5. Keingkaran orang yang diajak bicara (mukhâthab), menuntut pembicaraan yang diperkuat (bertaukid).
6. Dan sebagainya.

Dalam Al-Quran, pembicaraan disebut qoul atau qoulan sedangkan dalam kehidupan sehari-hari disebut kalam. Perbedaan makna antara qoulan dengan kalam adalah: qoulan meliputi pembicaraan lisan dan tulisan, sedangkan kalam hanya meliputi pembicaraan lisan saja. Karena itu, sesuatu yang akan dibicarakan atau akan dipidatokan atau akan dipresentasikan secara tertulis disebut maqâlah yang populer dengan istilah makalah.

Bentuk-bentuk pembicaraan (qoulan) dalam Al-Quran, amat kaya dan relatif bervariasi tergantung pada tuntutan situasi dan kondisi apa dan bagaimana, serta kepada siapa pembicaraan itu ditujukan. Ketika kita berbicara dengan seseorang yang berada di bawah kita, dalam arti umurnya, pengalamannya, dan pengetahuannya, sementara dia amat memerlukan bimbingan kita, maka gunakanlah pembicaraan yang simpel, yakni mudah dipahami dan disampaikan secara arif dan bijaksana, yang dalam Al-Quran disebut qoulan ma’rûfan (lihat QS.4:5). Ketika berbicara dengan seseorang yang secara psikologis menjadi bagian dalam hidup kita, misalnya dengan keluarga kita, tetapi pembicaraan yang akan dismpaikan menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan masalah hak dan kewajiban, maka gunakanlah pembicaraan yang efektif, yakni pembicaraan yang tepat kena sasaran (to the point), yang dalam Al-Quran disebut qoulan sadîdan (lihat QS.4:9). Ketika kita berbicara dengan lawan politik atau hendak menyampaikan pidato politik (kampanye) yang dimaksudkan untuk meyakinkan masa (publik) tentang misi, visi, dan perjuangan politik kita dan sekaligus untuk melemahkan lawan-lawan politik, maka gunakan pembicaraan yang berbekas, dalam arti yang meninggalkan kesan yang mendalam dan diplomatis, yang dalam Al-Quran disebut qoulan balîghaa (lihat QS.4:64). Ketika kita berbicara dengan penguasa yang otoriter dan diktator seperti Fir’aun, gunakanlah pembicararaan yang lemah lembut yang menyentuh hati dan perasaan serta membangkitkan kesadaran kemanusiannya, yang dalam Al-Quran disebut qoulan layyinan (lihat QS.20:44). Dan ketika kita berbicara di hadapan seseorang yang secara moral dan etika patut kita hormati; mungkin karena faktor usia yang lebih tua, atau boleh jadi karena pengalaman dan pengetahuannya, atau mungkin karena kedudukannya, maka gunakan pembicaraan yang penuh saya hormat dan tidak menggurui, yang dalam Al-Quran disebut qoulan karîman (lihat QS.17:23). Dan masih banyak bentuk-bentuk pembicaraan yang dicontohkan dan diajarkan Al-Quran yang amat memperhatikan dan sangat menyesuaiakan dengan tuntutan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Contoh-contoh tersebut di atas, sekaligus memberi pelajaran bahwa ketika kita mempelajari Al-Quran, maka yang semestinya kita pelajari, bukan hanya isi (conten) atau pesan moralnya saja, tetapi harus kita pelajari juga tentang bagaimana cara menyampaikan (men-tabligh-kannya) kembali ajaran Al-Quran itu kepada orang lain secara baik dan benar. Bahkan agar kita dapat menyampaikan kembali hikmah dan pelajaran Al-Quran secara baik dan benar, serta mampu memberikan kesan yang mendalam (atsar) dan memberikan pencerahan dan solusi kehidupan umat manusia, selain harus dipelajari secara teoritis dan praktis, seorang muballigh patut juga melengkapi dirinya dengan latihan-latihan (riadhah) spiritual seperti mengintensifkan shalat malam (tahajjud), rajin membaca, memahami, dan menghayati ayat-ayat Al-Quran, dan lain-lain, niscaya Allah Yang Maha Agung akan menganugrahi kepada orang tersebut pembicaraan yang berbobot, yang dalam Al-Quran disebut qoulan tsaqîlan. Mengapa demikian? Sebab, pesan atau misi yang akan disampaikan bukan pesan manusia, melainkan pesan atau risalah Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, diperlukan adanya penyesuaian akhlak dan kepribadian dari sang penyampai pesan-pesan tersebut. Mari kita simak, pesan Allah SWT berikut ini:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit dari padanya, yaitu setengahnya atau kurang dari setengahnya, atau lebih dari setengahnya, dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepada-Mu perkataan yang berbobot” QS.73:1-5).

Adapun secara akademik, ilmu yang mempelajari tentang metoda dan gaya pembicaraan yang efektif serta sesuai dengan tuntutan keadaan disebut ilmu balahgah, atau dalam ilmu komunikasi disebut ilmu retorika

Mengenal Sosok Muballigh dan Muballighah

Dengan demikian, setelah kita mengikuti uraian tersebut di atas, kita mulai mengenal siapa sebenarnya sosok muballigh dan muballighah itu. Ternyata, mereka bukan golongan manusia biasa, melainkan golongan manusia yang amat istimewa dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya. Mereka juga adalah golongan yang patut mendapat tempat yang mulia dan terhormat di hadapan manusia dan patut didukung segala kifrah dan perjuangannya. Karena, dipundak merekalah tanggung jawab kehidupan umat dan perbaikan masa depan kehidupannya. Muballigh/ muballighah merupakan profesi yang bukan saja diakui keberadaannya oleh manusia, tetapi difasilitasi oleh Allah SWT. Selama mereka komit pada perjuangannya, maka setiap derap langkahnya selalu diback up, dipandu, dan ditolong oleh Allah. Karena itu, di setiap zaman dan pada setiap tempat, manusia sangat membutuhkan kehadiran mereka; Mereka tak ubahnya pelita bagi kehidupan; Mereka benar-benar wakil Allah dan pelanjut estapeta perjuangan Rasulullah SAW. Untuk itu, mari bergabung bersama mereka! Mari belajar lebih bersungguh-sungguh lagi untuk menjadi seperti mereka.

Secara teoritis, seseorang yang layak disebut muballigh atau muballighah adalah Pembicara yang berbakat merangkai kalimat-kalimat atau susunan pembicaraan yang baik, benar (fasih), dan indah, serta sesuai dengan tuntutan keadaan (KH.A.Wahab Muhsin&Drs.T. Fuad Wahab, Pokok-pokok Ilmu Balaghah hal. 21). Karena itu, dalam ilmu balaghah, seorang muballigh atau muballighah disebut mutakallim balîgh. Dengan demikian, seseorang layak disebut muballigh atau muballighah apabila dalam dirinya terdapat ciri-ciri sebagai berikut:

1. Menguasai materi pembicaraan, yakni sesuatu yang akan disampaikan;
2. Menguasai keadaan, situasi dan kondisi yang dihadapi, yang dalam istilah komunikasi disebut menguasai masa;
3. Mampu menyampaikan pebicaraan secara komunikatif, efektif, dan menarik;
4. Mampu meninggalkan kesan pembicaraan yang mendalam, mencerahkan, dan memberikan solusi bagi setiap orang yang mendengarkannya;
5. Mampu meningkatkan kedewasaan (keteladanan) bagi orang yang menyampaikan pembicaraannya. Karena, secara filosofis, tabligh, muballigh, dan muballighah, merupakan sebuah proses menuju kedewasaan. Demikian, Wallaahu a’lam .

No comments:

Post a Comment